<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Learning Corner</title>
	<atom:link href="http://purwanto.web.id/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://purwanto.web.id</link>
	<description>Learning about Learning with Dr. Purwanto</description>
	<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 08:35:03 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>JABATAN FUNGSIONAL PENGEMBANG TEKNOLOGI PEMBELAJARAN</title>
		<link>http://purwanto.web.id/?p=151</link>
		<comments>http://purwanto.web.id/?p=151#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 08:35:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purwanto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://purwanto.web.id/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, 23 Maret 2009. Khabar gembira bagi teman-teman yang bekerja dan kerkecimpung dalam bidang Teknologi Pembelajaran/Teknologi Pendidikan (TP), dengan telah terbitnya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor: PER/2/M.PAN/3/2009 tentang Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran dan Angka Kreditnya, tertanggal 10 Maret 2009. Terbitnya Permen tersebut menandai babak baru  bagi lahirnya profesi Pengembang Teknologi Pembelajaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta, 23 Maret 2009. Khabar gembira bagi teman-teman yang bekerja dan kerkecimpung dalam bidang Teknologi Pembelajaran/Teknologi Pendidikan (TP), dengan telah terbitnya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor: PER/2/M.PAN/3/2009 tentang Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran dan Angka Kreditnya, tertanggal 10 Maret 2009. Terbitnya Permen tersebut menandai babak baru  bagi lahirnya profesi Pengembang Teknologi Pembelajaran yang telah lama diperjuangkan oleh teman-teman  penggiat Teknologi Pendidikan (TP) khususnya yang ada di Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (PUSTEKKOM). Bagi lulusan TP lahirnya profesi atau jabatan fungsional Pengembang TP ini merupakan harapan baru untuk lebih meningkatkan pengabdiannya sebagai pegawai negeri. Sebagaimana kita ketahui ditetapkannya Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil adalah dalam rangka pengembangan profesionalisme dan pembinaan karier PNS serta peningkatan mutu pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan seperti diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional PNS. Tentu saja dengan jabatan fungsional ini teman-teman PNS akan memperoleh tunjangan jabatan, dan karena jabatan Pengembang TP ini masuk kategori atau jenjang ahli, mudah-mudahan besarnya tunjangan akan memadai. Besarnya tunjangan ini masih diperjuangkan melalui terbitnya Peraturan Presiden (Perpres)</p>
<p>Jabatan Pengembang TP ini juga menambah jenis jabatan fungsional dalam rumpun pendidikan lainnya, dan memberi peluang lebih besar bagi lulusan jurusan TP. Jabatan ini adalah jabatan karier yang hanya dapat diduduki oleh seseorang yang berstatus PNS. Tugas pokok Pengembang TP adalah melaksanakan analisis dan pengkajian sistem/model teknologi pembelajaran, perancangan sistem/model teknologi pembelajaran, produksi media pembelajaran, penerapan sistem/model dan pemanfaatan media pembelajaran, pengendalian sistem/model pembelajaran, dan evaluasi penerapan sistem/model dan pemanfaatan media pembelajaran. Dengan demikian setiap PNS yang bertugas di Pustekkom, Balai Pengembang Media, Balai Tekkom, dan menjalankan tugas seperti itu maka  PNS yang bersangkutan dapat menduduki jabatan Pengembang TP. Jabatan Pengembang TP juga terbuka bagi PNS yang bekerja di Institusi diklat,  pusat sumber belajar (PSB), yang ada di sekolah, universitas atau lembaga sejenis baik di lingkungan Depdiknas atau instansi lain. Selamat atas lahirnya jabatan fungsional pengembang TP, semoga diikuti sukses berikutnya.</p>
<p class='vc_tag'>&nbsp;Viewed&nbsp;335838&nbsp;times&nbsp;by&nbsp;2473&nbsp;viewers</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://purwanto.web.id/?feed=rss2&amp;p=151</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pemnafaatan Sumber Belajar di Sekolah</title>
		<link>http://purwanto.web.id/?p=89</link>
		<comments>http://purwanto.web.id/?p=89#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 08:45:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wijayalabs</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://purwanto.web.id/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[1. PENDAHULUAN
Pada hakikatnya setiap manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Adanya pemberian pendidikan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan akademis dan psikologis setiap manusia dalam hidupnya. Oleh karena itu, semua manusia di bumi Allah ini pasti sangat membutuhkan yang namanya pendidikan. 

Dunia pendidikan sekarang ini tengah menghadapi tantangan dalam cepatnya arus globalisasi. Dunia pendidikan dituntut agar dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="l4 level1 lfo1;"><strong><span style="EN-US;"><span style="Ignore;"><span style="small;">1.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span></strong><strong><span style="EN-US;"><span style="small;">PENDAHULUAN</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="EN-US;"><span style="small;">Pada hakikatnya setiap manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Adanya pemberian pendidikan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan akademis dan psikologis setiap manusia dalam hidupnya. Oleh karena itu, semua manusia di bumi Allah ini pasti sangat membutuhkan yang namanya pendidikan. </span></span></p>
<p><span id="more-89"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="EN-US;"><span style="small;">Dunia pendidikan sekarang ini tengah menghadapi tantangan dalam cepatnya arus globalisasi. Dunia pendidikan dituntut agar dapat mendorong dan mengupayakan peningkatan kemampuan dasar untuk menjadi individu unggul dan memiliki daya saing yang kuat secara cepat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="EN-US;"><span style="small;">Adanya isu sentral rendahnya mutu atau kualitas dan relevansi pendidikan membuat lembaga pendidikan seperti sekolah dituntut untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten. Di tambah lagi adanya otonomi daerah juga membawa perubahan-perubahan serta penyesuaian pendidikan demokratis, yang sangat memperhatikan keragaman kebutuhan daerah dan pemelajar itu sendiri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="EN-US;"><span style="small;">Timbulnya berbagai tuntutan tersebut membawa konsekwensi pada perubahan paradigma dalam belajar mengajar menjadi pembelajaran. Strategi dan pendekatan pembelajaran tidak lagi bertumpu pada guru tetapi berorientasi pada siswa sebagai subyek <em>(student centered).</em> Guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Tanpa guru, pembelajaran tetap dapat dilaksanakan karena adanya sumber belajar yang lain.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="EN-US;"><span style="small;">Sehubungan hal tersebut di atas para pendidik atau guru di sekolah diharapkan untuk dapat menggunakan sumber belajar secara tepat dengan memperhatikan:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="l2 level1 lfo2;"><span style="Wingdings;"><span style="Ignore;"><span style="small;">Ø</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="EN-US;"><span style="small;">Karakteristik pesan/bahan ajar</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="l2 level1 lfo2;"><span style="Wingdings;"><span style="Ignore;"><span style="small;">Ø</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="EN-US;"><span style="small;">Karakteristik pemelajar</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="l2 level1 lfo2;"><span style="Wingdings;"><span style="Ignore;"><span style="small;">Ø</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="SV;"><span style="small;">Karakteristik Sumber Belajar itu sendiri</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="SV;"><span style="small;">Peranan penting sumber belajar itu diantaranya adalah:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="l2 level2 lfo2;"><span style="SV;"><span style="Ignore;"><span style="small;">a.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="SV;"><span style="small;">Memfasilitasi pengalaman belajar pemelajar</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="l2 level2 lfo2;"><span style="SV;"><span style="Ignore;"><span style="small;">b.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="SV;"><span style="small;">Mendukung serta mempermudah terjadinya proses pembelajaran</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="l2 level2 lfo2;"><span style="SV;"><span style="Ignore;"><span style="small;">c.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="SV;"><span style="small;">Mempercepat laju belajar, memberi kesempatan pemelajar untuk belajar sesuai dengan kemampuannya</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="l2 level2 lfo2;"><span style="SV;"><span style="Ignore;"><span style="small;">d.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="SV;"><span style="small;">Membantu pendidik dalam menggunakan waktu secara lebih efisien</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="l2 level2 lfo2;"><span style="SV;"><span style="Ignore;"><span style="small;">e.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="SV;"><span style="small;">Mengurangi kontrol pendidik yang kaku dan tradisional</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="SV;"><span style="small;">Fakta yang ada di lapangan, dan telah diamati oleh para peneliti (Dikutip dari Sitepu (2008:14) menemukan bahwa:</span></span></p>
<ol style="0cm;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="SV;"><span style="small;">Pemanfaatan aneka sumber belajar di sekolah masih belum sesuai harapan</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="SV;"><span style="small;">Walau pendidik mengaku mengetahui konsep belajar yang menuntut penggunaan berbagai sumber belajar, proses pembelajaran masih berpusat pada pendidik.</span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="SV;"><span style="small;">Pengamatan sejumlah mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Lampung dan Universitas Negeri Jakarta pada saat studi banding di bulan September tahun 2008 ke beberapa SD, SMP, dan SMA menemukan bahwa:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="list 37.5pt;"><span style="SV;"><span style="Ignore;"><span style="small;">a.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="SV;"><span style="small;">Guru belum memanfaatkan aneka sumber belajar yang terdapat di lingkungan sekolah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="list 37.5pt;"><span style="SV;"><span style="Ignore;"><span style="small;">b.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="SV;"><span style="small;">Peralatan (OHP, komputer dan LCD) masih sangat terbatas</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="list 37.5pt;"><span style="SV;"><span style="Ignore;"><span style="small;">c.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="SV;"><span style="small;">Alat peraga, peralatan laboratorium, dan perpustakaan kurang terawat</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="list 37.5pt;"><span style="SV;"><span style="Ignore;"><span style="small;">d.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="SV;"><span style="small;">Belum ada tenaga khusus pengelola sumber-sumber belajar (laboran) yang tersedia di sekolah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="list 37.5pt;"><span style="SV;"><span style="Ignore;"><span style="small;">e.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="SV;"><span style="small;">Dianggap perlu melakukan pelatihan terhadap pendidik bagaimana cara mengembangkan aneka sumber belajar yang terintegrasi dengan pengembangan sistem pembelajaran.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="SV;"><span style="small;">Oleh karena itu, penting kiranya para mahasiswa Teknologi pendidikan melakukan penelitian ilmiah atau riset untuk mengungkapkan bagaimanakah pemanfaatan Sumber Belajar yang ada di sekolah secara tepat dan optimal.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="SV;"><span style="small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="l4 level1 lfo1;"><strong><span style="EN-US;"><span style="Ignore;"><span style="small;">2.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span></strong><strong><span style="EN-US;"><span style="small;">PEMBAHASAN</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="EN-US;"><span style="small;">Pada makalah ini, penulis ingin menguraikan lebih mendalam tentang bagaimana sumber belajar dimanfaatkan di sekolah dalam membantu proses pembelajaran. Namun sebelumnya mari kita uraikan dulu pengertiannya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="EN-US;"><span style="small;">Pengertian pemanfaatan adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber belajar (Seels and Richey, 1994:14). Menurut Clark, ada lima aspek pemanfaatan yaitu:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="l4 level2 lfo1;"><span style="Wingdings;"><span style="Ignore;"><span style="small;">Ø</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="EN-US;"><span style="small;">Media sebagai teknologi mesin</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="l4 level2 lfo1;"><span style="Wingdings;"><span style="Ignore;"><span style="small;">Ø</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="EN-US;"><span style="small;">Media sebagai tutor</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="l4 level2 lfo1;"><span style="Wingdings;"><span style="Ignore;"><span style="small;">Ø</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="EN-US;"><span style="small;">Media sebagai pengubah perilaku</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="l4 level2 lfo1;"><span style="Wingdings;"><span style="Ignore;"><span style="small;">Ø</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="EN-US;"><span style="small;">Media sebagai pemotivasi belajar</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="l4 level2 lfo1;"><span style="Wingdings;"><span style="Ignore;"><span style="small;">Ø</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="EN-US;"><span style="small;">Media sebagai alat berpikir dan memecahkan masalah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="EN-US;"><span style="small;">Pengertian sumber belajar adalah apa saja (orang, bahan, alat, teknik, lingkungan) yang mendukung serta memungkinkan memberikan kemudahan dan kelancaran terjadinya belajar, serta memungkinkan terjadinya interaksi antara pemelajar dengan sumber belajar tersebut.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="#00FF;"><span style="small;">Kegiatan belajar, sering dikaitkan dengan kegiatan mengajar. Begitu eratnya kaitan itu, sehingga keduanya sulit dipisahkan. Dalam percapakan sehari-hari kita secara spontan sering mengucapkan istilah kegiatan<em><span style="Arial;"> “</span></em>belajar-mengajar” menjadi satu kesatuan. Bahwa kedua kegiatan tersebut berkaitan erat adalah benar. Namun, benarkah bahwa agar terjadi kegiatan belajar harus selalu ada orang yang mengajar? Benar pulakah bahwa setiap kegiatan mengajar pasti selalu menghasilkan kegiatan belajar ? </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="#00FF;"><span style="small;">Jawabannya : <span style="yes;"> </span>belum tentu. Artinya, dalam setiap kegiatan belajar tidak harus selalu ada <strong><span style="Arial;">orang </span></strong>yang mengajar. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="#00FF;"><span style="small;">Kegiatan belajar bisa saja terjadi walaupun tidak ada kegiatan mengajar. Begitu pula sebaliknya, kegiatan mengajar tidak selalu dapat menghasilkan kegiatan belajar. Ketika Anda menjelaskan pelajaran di depan kelas misalnya, memang terjadi kegiatan mengajar. Tetapi, dalam kegiatan<span style="yes;"> </span>itu tak ada jaminan telah terjadi kegiatan belajar pada setiap siswa yang Anda ajar. Kegiatan mengajar dikatakan berhasil hanya apabila dapat mengakibatkan / menghasilkan kegiatan belajar pada diri siswa. Jadi, sebenarnya hakekat guru mengajar adalah usaha guru untuk membuat siswa belajar. Dengan kata lain, mengajar merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="#00FF;"><span style="small;">Istilah <strong><span style="Arial;">pembelajaran </span></strong><strong><span style="Arial;">l</span></strong>ebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para siswanya. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya. Kegiatan belajar hanya bisa berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Seorang guru tidak dapat “mewakili” belajar untuk siswanya. Seorang siswa belum dapat dikatakan telah belajar hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan guru yang sedang mengajar. Ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi agar terjadi kegiatan belajar. Syarat itu adalah adanya interaksi antara pebelajar <em>(learner)</em> dengan sumber belajar. Jadi, belajar hanya terjadi <strong><span style="Arial;">jika dan hanya jika</span></strong><em><span style="Arial;"> </span></em>terjadi interaksi antara pebelajar dengan sumber belajar. Tanpa terpenuhi syarat itu, mustahil kegiatan belajar akan terjadi.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="#00FF;"><span style="small;">Pekerjaan mengajar tidak selalu harus diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi pelajaran. Meskipun menyajikan materi pelajaran memang merupakan bagian dari kegiatan mengajar, tetapi bukanlah satu-satunya. Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membuat siswa belajar. Peran yang seharusnya dilakukan guru adalah mengusahakan agar setiap siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan berbagai sumber belajar yang ada. Guru hanya merupakan salah satu (bukan satu-satunya) sumber belajar bagi siswa. Selain guru, masih banyak lagi sumber-sumber belajar yang lain. Lalu, apa sebenarnya sumber belajar itu? </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="#00FF;"><span style="small;">Menurut Asosiasi Teknologi Komunikasi Pendidikan (AECT), sumber belajar adalah semua sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) belajar bagi siswa. Sumber belajar itu meliputi pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan lingkungan/latar.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="#00FF;"><span style="small;">Ditinjau dari asal usulnya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: sumber belajar yang dirancang (<em><span style="Arial;">learning resources by design</span></em>) yaitu sumber belajar yang memang sengaja dibuat untuk tujuan pembelajaran. Contohnya adalah : buku pelajaran, modul, program audio, transparansi (OHT). Jenis sumber belajar yang kedua adalah sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan ( <em><span style="Arial;">learning resources by utilization),</span></em> yaitu sumber belajar yang tidak secara khusus dirancang untuk keperluan pembelajaran, namun dapat ditemukan, dipilih dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Contohnya: pejabat pemerintah, tenaga ahli, pemuka agama, olahragawan, kebun binatang, waduk, museum, film, sawah, terminal, surat kabar, siaran televisi, dan masih banyak lagi yang lain. Jadi, begitu banyaknya sumber belajar yang ada di seputar kita yang semua itu dapat kita manfaatkan untuk keperluan belajar. Sekali lagi, guru hanya merupakan salah satu dari sekian banyak sumber belajar yang ada. Bahkan guru hanya salah satu sumber belajar yang berupa orang, selain petugas perpustakaan, petugas laboratorium, tokoh-tokoh masyarakat, tenaga ahli/terampil, tokoh agama, dll. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="#00FF;"><span style="small;">Oleh karena setiap anak merupakan individu yang unik (berbeda satu sama lain), maka sedapat mungkin guru memberikan perlakuan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing siswa. Dengan begitu maka diharapkan kegiatan mengajar benar-benar membuahkan kegiatan belajar pada diri <strong><span style="Arial;">setiap</span></strong> siswa. Hal ini dapat dilakukan kalau guru berusaha menggunakan berbagai sumber belajar secara bervariasi dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada siswa untuk selalu berinteraksi dengan sumber-sumber belajar yang ada.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="#00FF;"><span style="small;">Hal yang perlu diperhatian adalah, agar bisa terjadi kegiatan belajar pada siswa, maka siswa harus secara aktif melakukan interaksi dengan berbagai sumber belajar. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar hanya mungkin terjadi jika ada interaksi antara siswa dengan sumber-sumber belajar. Dan inilah yang seharusnya diusahakan oleh setiap pembelajar (<em><span style="Arial;">instructor, guru)</span></em> dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu para guru dituntut untuk kraetif dalam menciptak sumber belajar berupa media yang dapat digunakan oleh siswa dalam memahami materi pelajaran.</span></span></p>
<p><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="small;"><span style="#00FF;">Peran guru adalah menyediakan, menunjukkan, membimbing dan memotivasi siswa agar mereka dapat berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang ada. Bukan hanya sumber belajar yang berupa orang, melainkan juga sumber-sumber belajar yang lain. Bukan hanya sumber belajar yang sengaja dirancang khusus, melainkan juga sumber belajar yang tinggal dimanfaatkan. Semua sumber belajar itu dapat kita temukan, kita pilih dan kita manfaatkan sebagai sumber belajar bagi siswa kita.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="#00FF;"><span style="small;">Wujud interaksi antara siswa dengan sumber belajar dapat bermacam-macam. Cara belajar dengan mendengarkan ceramah dari guru memang merupakan salah satu wujud interaksi tersebut. Namun belajar hanya dengan mendengarkan saja, patut diragukan efektifitasnya. Belajar hanya akan efektif jika si belajar diberikan banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu, melalui<em><span style="Arial;"> multi-metode dan multi-media</span></em>. Melalui berbagai metode dan media pembelajaran, siswa akan dapat banyak berinteraksi secara aktif dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki siswa.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="#00FF;"><span style="small;">Namun sangat disayangkan, belum semua guru yang ada di sekolah memanfaatkan sumber belajar ini secara optimal. Masih banyak guru yang mengandalkan cara mengajar dengan paradigma lama, dimana guru merasa satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Inilah yang terjadi pada kebanyakan guru-guru di sekolah kita. Pemanfaatan sumber belajar lainnya dirasakan kurang. Sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan ( <em><span style="Arial;">learning resources by utilization),</span></em> juga belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Padahal banyak sumber belajar yang dapat dimanfatkan oleh guru guna membantu proses pembelajarannya. Contohnya, dalam film Laskar Pelangi. Ibu muslimah tidak hanya sebagai pusat sumber belajar berupa orang, tetapi juga dapat mengarahkan siswanya untuk melihat sumber belajar yang lain, seperti Langit yang kebetulan ada pelanginya, Laut yang luas, dan suasana kedaerahan Belitong dijadikan juga sumber belajar.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="#00FF;"><span style="small;">Menurut pemikiran penulis, pada saat ini yang harus diperhatikan oleh guru adalah:</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="l4 level3 lfo1;"><span style="Arial;"><span style="Ignore;"><span style="small;">a.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="small;"><span style="#00FF;">bagaimana sumber belajar dimanfaatkan sebagai teknologi dan mesin</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="l4 level3 lfo1;"><span style="Arial;"><span style="Ignore;"><span style="small;">b.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="small;"><span style="#00FF;">bagaimana sumber belajar dimanfaatkan sebagai tutor</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="l4 level3 lfo1;"><span style="Arial;"><span style="Ignore;"><span style="small;">c.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="small;"><span style="#00FF;">bagaimana sumber belajar dimanfaatkan sebagai pengubah perilaku</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="l4 level3 lfo1;"><span style="Arial;"><span style="Ignore;"><span style="small;">d.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="small;"><span style="#00FF;">bagaimana sumber belajar dimanfaatkan sebagai pemotivasi belajar</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="l4 level3 lfo1;"><span style="Arial;"><span style="Ignore;"><span style="small;">e.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="small;"><span style="#00FF;">bagaimana sumber belajar dimanfaatkan sebagai alat berpikir dan memecahkan masalah. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="small;"><span style="#00FF;">Kalau semua hal di atas itu sudah dilakukan oleh para guru, maka pemanfatan sumber belajar yang ada di sekolah akan berjalan secara optimal. <span style="yes;"> </span>Sebab penulis yakin kalau </span><span style="Arial;">sumber belajar memiliki fungsi :</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="l0 level1 lfo5;"><span style="#00FF;"><span style="Ignore;"><span style="small;">1.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="#00FF;"><span style="small;">Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="l0 level1 lfo5;"><span style="#00FF;"><span style="Ignore;"><span style="small;">2.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="#00FF;"><span style="small;">Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan cara: (a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional; dan (b) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="l0 level1 lfo5;"><a name="more-735"></a><span style="#00FF;"><span style="Ignore;"><span style="small;">3.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="#00FF;"><span style="small;">Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan (b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="l0 level1 lfo5;"><span style="#00FF;"><span style="Ignore;"><span style="small;">4.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="#00FF;"><span style="small;">Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan: (a) meningkatkan kemampuan sumber belajar; (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="l0 level1 lfo5;"><span style="#00FF;"><span style="Ignore;"><span style="small;">5.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="#00FF;"><span style="small;">Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="l0 level1 lfo5;"><span style="#00FF;"><span style="Ignore;"><span style="small;">6.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="#00FF;"><span style="small;">Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="small;"><span style="Arial;">Fungsi-fungsi di atas sekaligus menggambarkan tentang alasan dan arti penting sumber belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian hasil pembelajaran siswa.</span><span style="#00FF;"> Sumber belajar yang <strong>dimanfaatkan </strong><em>(learning resources by utilization),</em> yaitu sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sumber belajar <em>by utilization </em>seperti<em> </em></span><strong><span style="Arial;">lingkungan:</span></strong><span style="Arial;"> ruang kelas, studio, perpustakaan, aula, teman, kebun, pasar, toko, museum, kantor dan sebagainya</span><span style="#00FF;"> harus dapat dimanfaatkan oleh guru sehingga materi yang disampaikan dapat cepat masuk ke otak siswa.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="Arial;"><span style="small;">Banyak orang beranggapan bahwa untuk menyediakan sumber belajar menuntut adanya biaya yang tinggi dan sulit untuk mendapatkannya, yang kadang-kadang ujung-ujungnya akan membebani orang tua siswa untuk mengeluarkan dana pendidikan yang lebih besar lagi. Padahal dengan berbekal kreativitas, guru dapat membuat dan menyediakan sumber belajar yang sederhana dan murah. Misalkan, bagaimana guru dan siswa dapat memanfaatkan bahan bekas. Bahan bekas, yang banyak berserakan di sekolah dan rumah, seperti kertas, mainan, kotak pembungkus, bekas kemasan sering luput dari perhatian kita. Dengan sentuhan kreativitas, bahan-bahan bekas yang biasanya dibuang secara percuma dapat dimodifikasi dan didaur-ulang menjadi sumber belajar yang sangat berharga. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="Arial;"><span style="small;">Dalam lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran (LKGDP) 2008, penulis melihat banyak guru yang kreatif dalam membuat media pembelajaran dan alat peraga pembelajarannya sendiri, sehingga mengantarkan mereka menjadi juara di lomba itu. Rata-rata dari mereka membuat sendiri media pembelajarannya dengan bahan yang mudah didapat dan biaya yang sangat murah. Sehingga kebermanfatannya sebagai sumber belajar sangat terasakan oleh semua.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="Arial;"><span style="small;">Demikian pula, dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar tidak perlu harus pergi jauh dengan biaya yang mahal, lingkungan yang berdekatan dengan sekolah dan rumah pun dapat dioptimalkan menjadi sumber belajar yang sangat bernilai bagi kepentingan belajar siswa. Tidak sedikit sekolah-sekolah di kita yang memiliki halaman atau pekarangan yang cukup luas, namun keberadaannya seringkali ditelantarkan dan tidak terurus. Jika saja lahan-lahan tersebut dioptimalkan tidak mustahil akan menjadi sumber belajar yang sangat berharga.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="small;"><span style="Arial;">Hasil pengamatan penulis sebagai guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), belakangan ini di sekolah-sekolah tertentu mulai banyak dikembangkan bentuk pembelajaran dengan menggunakan internet, sehingga siswa “dipaksa” untuk menyewa internet –yang memang untuk ukuran orang Indonesia pada umumnya-, masih dianggap relatif mahal. Kenapa tidak disediakan dan dikelola saja oleh masing-masing sekolah? Mungkin dengan cara difasilitasi oleh sekolah hasilnya akan jauh lebih efektif dan efisien, dibandingkan harus melalui rental ke WarNet. Bukankah sekarang ini sudah tersedia paket-paket hemat untuk berinternet yang disediakan para provider? Bahkan pihak telkom atau indosat sangat senang bila mereka diberikan kesempatan untuk membantu sekolah dalam membangun internet.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="#00FF;"><span style="small;">Pengamatan penulis di beberapa sekolah, termasuk sekolah tempat penulis bekerja, pemanfaatan sumber belajar di sekolah baik yang <strong>dirancang maupun yang tinggal dimanfaatkan</strong> belum berjalan secara baik dan optimal. Masih banyak guru yang masih menggunakan paradigma lama dan belum sepenuhnya percaya akan adanya sumber belajar lainnya yang dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pelajarannya. Guru pun kurang kreatif dalam membuat sendiri media pembelajarannya, sehingga ketiadaan dana sering menjadi kambing hitamnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"><span style="small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="l4 level1 lfo1;"><strong><span style="EN-US;"><span style="Ignore;"><span style="small;">3.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span></strong><strong><span style="EN-US;"><span style="small;">PENUTUP</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="EN-US;"><span style="small;">Dari uraian makalah tersebut di atas, didapatkan kesimpulan bahwa pemanfaatan sumber belajar yang ada di sekolah-sekolah kita masih belum baik dan optimal. Pemanfaatan aneka sumber belajar di sekolah masih belum sesuai harapan seperti apa yang sudah diteliti oleh Sitepu (2008:14) dan juga hasil studi lapangan mahasiswa pascasarjana UNL dan UNJ.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><em><span style="#00FF;"><span style="small;">Hasil survey yang dilaksanakan pada sejumlah SD negeri dan swasta di Jawa Barat, juga menunjukkan, sekolah dasar pada umumnya masih kurang memanfaatkan sumber belajar dan masih bertumpu pada &#8217;sosok&#8217; guru sebagai sumber belajar utamanya.</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><em><span style="#00FF;"><span style="small;">Dari data tersebut nampak bahwa sumber belajar masih terbatas dan belum dipandang sebagai faktor penting dalam proses pembelajaran. Para pihak yang terkait baik kepala sekolah maupun guru, biasanya berdalih karena minimnya dana di setiap sekolah. Lantas apakah dalih seperti itu sudah tepat dan persoalan menjadi selesai? Pertanyaan lain apakah sumber belajar yang dimiliki dan berada (tergelar) di masyarakat telah dimanfaatkan secara optimal? Yang jelas, sumber belajar itu sesungguhnya tidak harus mahal, mewah atau berupa barang yang sulit didapat. Akan tetapi lebih kepada sejauhmana kreativitas dan kemauan para guru untuk berinovasi dan memanfaatkan sumber belajar yang ada.</span></span></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="#00FF;"><span style="small;">Di samping memanfaatkan sumber belajar yang ada, guru dituntut untuk mencari dan merencanakan sumber belajar lainnya baik hasil rancangan sendiri ataupun sumber yang sudah tergelar di sekililing sekolah dan masyarakat.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="#00FF;"><span style="small;">Sumber belajar yang dapat dimanfaatkan dan berada di masyarakat misalnya:</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="l3 level1 lfo6;"><span style="#00FF;"><span style="Ignore;"><span style="small;">a.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="#00FF;"><span style="small;">Mengunjungi museum sesuai dengan materi (museum uang, museum sejarah atau museum hewan)</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="l3 level1 lfo6;"><span style="#00FF;"><span style="Ignore;"><span style="small;">b.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="#00FF;"><span style="small;">Study tour mengunjungi gedung geologi, lembaga pemasyarakatan atau lembaga pemerintahan</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="l3 level1 lfo6;"><span style="#00FF;"><span style="Ignore;"><span style="small;">c.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="#00FF;"><span style="small;">Mengunjungi tempat ibadah, pasar, mal (tempat belanja).</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="l3 level1 lfo6;"><span style="#00FF;"><span style="Ignore;"><span style="small;">d.</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="#00FF;"><span style="small;">Mendatangkan tokoh untuk diskusi (polisi dan dokter membahas narkoba, dll)</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify;"><span style="small;"><span style="#00FF;">Serta berbagai alternatif sumber belajar lain yang tentu masih banyak. Keberadaan guru dalam perencanaan dan pengorganisasian pembelajaran menjadi cukup penting dan akan menentukan terhadap kualitas pembelajaran. Artinya sejauhmana kemauan dan usaha guru yang bersangkutan. Guru dituntut untuk dapat kreatif dalam proses pembelajarannya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"><span style="small;">Hasil wawancara penulis dengan para pendidik rata-rata mengaku mengetahui konsep belajar yang menuntut penggunaan berbagai sumber belajar, namun dalam pelaksanaannya proses pembelajaran masih berpusat pada pendidik/guru. Meraka cenderung mengatakan bahwa sumber belajar orang jauh lebih penting daripada sumber belajar lainnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"><span style="small;">Inilah wajah dunia pendidikan kita yang harus segera dibenahi. Pemanfatan sumber belajar yang ada di sekolah harus lebih dibenahi dan diperbaiki. Kalau bukan kita yang memperbaiki, lalu siapa lagi?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"><span style="small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"><span style="small;">DAFTAR PUSTAKA</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"><span style="small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="none;"><span style="Arial;"><span style="small;">Sharon E. Smaldino, dkk (2005). <em>Instructional Technology and Media for Learning. </em>New Jersey: Pearson Merril Prentice Hall.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="none;"><span style="Arial;"><span style="small;">Dick, W. Dkk (2006) <em>The Systematic Design of Instruction.</em> New York: Pearson.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="none;"><span style="Arial;"><span style="small;">Reiser, R.A. dan Dempsey, J.V. (2002) <em>Trends and Issues in Instrctional Design and Technology. </em>Ohio: Merril - Prentice Hall.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="none;"><span style="Arial;"><span style="small;">Newby, T.J. et. al.(2000)<em> Instructional Technology for Teaching and Learning: Designing Instruction, Integrating Computers and Using Media.</em> New Jersey: Prentice Hall Inc. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="none;"><span style="Arial;"><span style="small;">Snelbecker, J. E. (1974)<em> Learning Theory, Instructional Theory, and Psychoeducational Design.</em> New York:<span style="yes;"> </span>McGraw Hill Book Company.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="none;"><span style="Arial;"><span style="small;">Smith, P.L., &amp; Ragan, T.J. (1993) <em>Instructional Design.</em> New York: Macmillan Publishing<strong> </strong>Co.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="none;"><span style="Arial;"><span style="small;">Sitepu, (2008) <em>Pusat Sumber Belajar.</em> Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.</span></span></p>
<p class='vc_tag'>&nbsp;Viewed&nbsp;338429&nbsp;times&nbsp;by&nbsp;4264&nbsp;viewers</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://purwanto.web.id/?feed=rss2&amp;p=89</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pemanfaatan Aneka Sumber Belajar Dalam Mata Pelajaran IPS Terpadu di SMP Kelas VII (Studi EMPIRIK)</title>
		<link>http://purwanto.web.id/?p=39</link>
		<comments>http://purwanto.web.id/?p=39#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 08:43:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yeany</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Mahasiswa]]></category>

		<category><![CDATA[teknologi pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://purwanto.web.id/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Sumber belajar merupakan segala sesuatu yang dapat membantu siswa untuk belajar dan meningkatkan kompetensinya. Menurut AECT, sumber belajar meliputi setiap pesan, orang, bahan, alat, teknik dan latar yang digunakan dalam proses pembelajaran.

 Dalam proses belajar, komponen sumber belajar bisa dimanfatkan secara tunggal atau kombinasi untuk menyerapan hasil belajar terbaik. Sumber belajar juga bisa yang direncanakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"><span style="small;">Sumber belajar merupakan segala sesuatu yang dapat membantu siswa untuk belajar dan meningkatkan kompetensinya. Menurut AECT, sumber belajar meliputi setiap pesan, orang, bahan, alat, teknik dan latar yang digunakan dalam proses pembelajaran.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"><span style="small;"><span style="1;"> </span>Dalam proses belajar, komponen sumber belajar bisa dimanfatkan secara tunggal atau kombinasi untuk menyerapan hasil belajar terbaik. Sumber belajar juga bisa yang direncanakan atau bisa juga yang dimanfaatkan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"><span style="small;"><span style="1;"> </span>Dalam mengkaji kurikulum KTSP yang digunakan saat ini pada mata pelajaran IPS terpadu di SMP, merupakan hasil penggabungan dari empat mata pelajaran dasar, yaitu Ekonomi, Geografi, Sosiologi dan Sejarah. Tentu terdapat berbagai penyesuaian dalam proses pembelajarannya, dikarenakan guru harus sebisa mungkin memberikan kemudahan pada siswa-siswanya untuk dapat menguasai dan memahami materi-materi dalam IPS terpadu ini. Siswa harus dibantu agar belajar lebih mudah, lebih lancer dan lebih terarah serta focus. Untuk itu diperlukan banyak sumber belajar yang bisa dimanfaatkan dalam proses pembelajaran di kelas. Guru dituntut untuk memiliki kemampuan khusus yang berhubungan dengan pemanfaatan sumber belajar. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"></span></p>
<p class='vc_tag'>&nbsp;Viewed&nbsp;334475&nbsp;times&nbsp;by&nbsp;3436&nbsp;viewers</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://purwanto.web.id/?feed=rss2&amp;p=39</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Blogging = Learning</title>
		<link>http://purwanto.web.id/?p=146</link>
		<comments>http://purwanto.web.id/?p=146#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 01:07:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Uwes Chaeruman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Mahasiswa]]></category>

		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<category><![CDATA[belajar sepanjang hayat]]></category>

		<category><![CDATA[blogging]]></category>

		<category><![CDATA[blogging is learning]]></category>

		<category><![CDATA[learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://purwanto.web.id/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[B = L. ha ha ha  , mana bisa B sama dengan L. Tentu saja bisa, karena dengan B alias Blogging membuat kita L alias learning. Tidak percaya, segera Anda buktikan dengan cara &#8220;NgeBlog&#8221; mulai saat ini juga.
Dalam konteks Islam ada hadits yang mengatakan, &#8220;TUNTUTLAH ILMU SEJAK DALAM BUAIAN SAMPAI KE LIANG LAHAT&#8221;. Kira-kira [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>B = L</strong>. ha ha ha <img src='http://purwanto.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> , mana bisa B sama dengan L. Tentu saja bisa, karena dengan B alias Blogging membuat kita L alias learning. Tidak percaya, segera Anda buktikan dengan cara &#8220;NgeBlog&#8221; mulai saat ini juga.</p>
<p>Dalam konteks Islam ada hadits yang mengatakan, &#8220;TUNTUTLAH ILMU SEJAK DALAM BUAIAN SAMPAI KE LIANG LAHAT&#8221;. Kira-kira begitu. Artinya apa, agama, saya kira agama apapun menuntut kita untuk belajar terus sepanjang hayat. Kalo kata orang kulon mah Long Life Learning lah namanya. Dalam konteks Islam juga, yang namanya sumber belajar atau sumber ilmu itu, ketika kita nanti keluar dari alam dunia yang fana ini, gak pernah ditanya datangnya dari mana, tapi hanya ditanya apakah diamalkan atau tidak. Berbeda dengan harta, akan ditanya datangnya dari mana, digunakan untuk apa.</p>
<p>He he he, kok si Uwes belagu jadi Ustadz, apa hubungannya dengan NgeBlog? Jangan bingung dulu, ada hubungannya ko, lihat aja cerita selanjutnya disini: <a href="http://fakultasluarkampus.net/blogging-learning/" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/fakultasluarkampus.net');">Blogging = Learning</a>. <img src='http://purwanto.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
<p class='vc_tag'>&nbsp;Viewed&nbsp;331484&nbsp;times&nbsp;by&nbsp;2675&nbsp;viewers</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://purwanto.web.id/?feed=rss2&amp;p=146</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>BUKU PANDUAN SEBAGAI  SUMBER BELAJAR DENGAN METODE PROGRAM INSTRUKSIONAL</title>
		<link>http://purwanto.web.id/?p=141</link>
		<comments>http://purwanto.web.id/?p=141#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 01:59:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iwanhendrawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Mahasiswa]]></category>

		<category><![CDATA[buku panduan]]></category>

		<category><![CDATA[pembelajaran]]></category>

		<category><![CDATA[program instruksional]]></category>

		<category><![CDATA[sumber belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://purwanto.web.id/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[ 
BAB I
PENDAHULUAN
 
Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran dapat melibatkan dua pihak yaitu siswa sebagai pembelajar dan guru sebagai fasilitator. Yang terpenting dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoTitle" style="normal;"><span style="1pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="150%;" lang="IN">BAB I</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="150%;" lang="IN">PENDAHULUAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran dapat melibatkan dua pihak yaitu siswa sebagai pembelajar dan guru sebagai fasilitator. Yang terpenting dalam pembelajaran, terjadinya proses belajar <em>(learning process)</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Seseorang dikatakan berhasil dalam belajar jika memenuhi ciri-ciri berikut: (1) ia menyadari jika sedang belajar. Siswa merasa bahwa dirinya sedang belajar, timbul dalam dirinya motivasi-motivasi untuk memiliki kompetensi/pengetahuan yang diharapkan sehingga tahapan-tahapan dalam belajar sampai kompetensi/pengetahuan itu dimiliki secara permanen (retensi) betul-betul disadari sepenuhnya. (2) hasil belajar diperoleh dengan adanya proses. Kompetensi/pengetahuan diperoleh tidak secara spontanitas, instant, namun bertahap (sequensial). Seorang anak bisa berhitung tentu tidak diperoleh hanya dalam waktu sesaat namun berproses cukup lama, kemampuan menghitung diawali dengan membaca lalu kemampuan mengeja, mengenal angka, tanda baca dan kalimat matematika. Seseorang yang tiba-tiba memiliki kecakapan seperti berenang dengan kecepatan tinggi karena akibat doping, bukanlah hasil dari kegiatan belajar, namun efek dari obat atau zat kimia yang dikonsumsinya. (3) Belajar membutuhkan interaksi, khususnya interaksi yang sifatnya manusiawi. Seorang siswa akan lebih cepat memiliki pengetahuan karena bantuan dari guru, pelatih ataupun instruktur. Dalam hal ini terjadi komunikasi dua arah antara siswa dan guru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Komunikasi terjadi karena ada media yang menjadi perantara antara siswa dan guru. M</span><span style="Garamond;">edia merupakan bagian dari proses komunikasi. Kualitas sebuah komunikasi ditunjang oleh penggunaan saluran dalam komunikasi tersbut. Saluran/channel yang dimaksud di atas adalah media. Karena pada dasarnya pembelajaran merupakan proses komunikasi, maka media yang dimasuk adalah media pembelajaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Dalam usaha memanfaatkan media sebagai alat bantu dan sumber belajar, Edgar Dale mengadakan klasifikasi menurut tingkat dari yang paling kongkrit ke yang paling abstrak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/iwan/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" alt="" width="273" height="276" /><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="200%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Gambar 1 - kerucut pengalaman Edgar Dale</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Klasifikasi tersebut kemudian dikenal dengan nama “kerucut pengalaman” dari Edgar Dale dan pada saat itu dianut secara luas dalam menentukan alat bantu yang paling sesuai untuk pengalaman belajar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN"><span> </span>Pada akhir tahun 1950 teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan media, sehingga fungsi media selain sebagai alat bantu juga berfungsi sebagai penyalur pesan. Kemudian dengan masuknya pengaruh teori tingkah laku dari B.F. Skinner, mulai tahun 1960 tujuan belajar bergeser ke arah perubahan tingkah laku belajar siswa, karena menurut teori ini membelajarkan orang adalah merubah tingkah lakunya. Pembelajaran terprogram (pengajaran berprograma) adalah merupakan produk dari aliran Skinner ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="150%;" lang="IN">BAB II</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="200%;" align="center"><strong><span style="200%;" lang="IN">PEMBAHASAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Perkembangan dunia pendidikan sungguh luar biasa dengan didukung kemajuan Teknologi Informasi. Teknologi Informasi membuat pembelajaran lebih efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan pembelajaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Teknologi Informasi membuat pembelajaran lebih efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan pembelajaran dengan didukung oleh:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>1.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">analisa pengetahuan dan keterampilan siswa dengan benar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>2.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">mempertimbangkan perbedaan pengetahuan dan keterampilan siswa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>3.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">tujuan pembelajaran harus spesifik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>4.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">mengembangkan kemampuan berpikir anak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>5.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">lingkungan belajar yang kondusif</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>6.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">kenyataan kehidupan sehari-hari siswa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>7.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">praktek yang relevan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>8.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">umpan balik yang benar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Komputer sebagai sarana interaktif merupakan salah satu bentuk pembelajaran terprogram (</span><em><span style="Garamond;">Programmed Instrduction</span></em><span style="Garamond;" lang="IN">), yang dilandasi hukum akibat (</span><em>Law of Effect</em><span style="Garamond;" lang="IN">). Dalam hukum akibat asumsi utama yang diyakini ialah: tingkah laku yang diikuti dengan kesenangan, kemungkinannya untuk dilakukan atau diulang dibandingkan tingkah laku yang tidak disenangi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Berdasarkan Hukum Akibat ini muncullah teori S-R (yang meliputi (</span><em>Stimulus, Response dan Reinformance</em><span style="Garamond;" lang="IN">). Pembelajaran dengan teori ini dilakukan cara siswa diberi pertanyaan sebagai stimulus, kemudian ia memberikan jawaban dari pertanyaan yang diberikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Selanjutnya oleh komputer respons siswa ditanggapi dan jika jawabannya benar komputer memberikan penguatan. Jika salah komputer memberikan pertanyaan lain yang memuat dorongan untuk memperbaiki jawaban siswa, hal ini sangat mungkin bisa dilakukan dengan menggunakan komputer, dalam hal ini komputer berfungsi sebagai tutor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Hal ini sangat membantu dalam memudahkan anak belajar, khususnya memahami materi khusus yang membutuhkan jawaban-jawaban langsung. Minimal, anak dapat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dengan benar saat dilaksanakan evaluasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Di perkotaan, mungkin sebagian besar siswa mempunyai komputer. Tetapi kita juga harus ingat bahwa di pelosok pedesaan, jarang siswa yang mempunyai komputer. Pilihan yang lebih realistis mungkin media cetak, buku pelajaran atau Buku panduan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Buku panduan atau buku pelajaran masih dibutuhkan selama siswa belum mempunyai alternatif lainnya (jika internet mudah diakses dan murah digunakan). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Keuntungan menggunakan buku panduang atau buku pelajaran adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>1.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">tersedia dalam berbagai topik dan berbeda formatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>2.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">fleksibel terhadap berbagai tujuan dan sesuai di berbagai lingkungan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>3.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">mudah dibawa kemanapun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>4.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">mudah digunakan oleh siapapun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>5.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">ekonomis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Keterbatasan menggunakan buku panduang atau buku pelajaran adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>1.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">tingkatan/kemampuan baca seseorang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>2.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">kecenderungan hanya untuk dihapal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>3.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">banyaknya kosakata baru yang tidak dikenal artinya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>4.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">satu arah komunikasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>5.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">determinasi kurikulum yang menonjol</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>6.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">kemungkinan menyajikan informasi yang salah jika tidak selektif</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Jadi, dapat dikatakan hingga saat ini, buku memang sebagai bahan bacaan utama. Buku hanya menyajikan informasi dan fakta. Dalam tugas ini, penulis mencoba membuat buku sebagai panduan/tutor bagi pembacanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Sebagai tutor, buku panduan digunakan antara lain untuk menampilkan, menjelaskan konsep dan ide. Dalam hal ini, siswa berinteraksi dengan buku panduan yang prosesnya sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>1.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">Buku panduan menampilkan suatu informasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>2.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">Siswa menjawab pertanyaan atau masalah yang sesuai dengan informasi yang diberikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>3.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">Kemudian Buku panduan mengevaluasi jawaban siswa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>4.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">Akhirnya Buku panduan menentukan apakah yang harus diperbuat siswa selanjutnya berdasarkan hasil evaluasi pada jawaban siswa tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Akan dilampirkan contoh buku panduan dengan metode </span><span style="Garamond;">Program Instruksional</span><span style="Garamond;"> <span lang="IN">untuk segala tingkatan, SD, SMP, SMA ataupun para pekerja.</span></span></p>
<p><span style="Garamond;" lang="IN"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="150%;" lang="IN">BAB III</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="200%;" align="center"><strong><span style="200%;" lang="IN">KESIMPULAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Jika guru sedang mempresentasikan sesuatu kepada pendengar, akan lebih efektif jika pendengar juga dibagikan hasil cetakan makalah presentasi. Jika guru sedang mengadakan test, lebih efisien jika guru mengadakan secara digital juga secara tertulis. Siswa mempunyai dokumen/portofolio untuk dilihat atau dipelajari dikemudian hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN">Siswa lebih mudah mengikuti pembelajaran dan memahami materi yang bersifat abstrak menjadi konkrit. Jadi bahan cetak (<em>printed material</em>) jika digunakan secara terintegrasi akan membuat pembelajaran lebih efektif dan efisien. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Garamond;" lang="IN"> </span></p>
<p><span style="Garamond;" lang="IN"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><strong><span style="Garamond;" lang="IN">Daftar Pustaka</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>1.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;">Nandika, Dodi MS, “</span><span style="Garamond;" lang="IN">Menata Sistem Perbukuan”, internet www.kompas.com, </span><span class="smalltype"><span style="Garamond;">Jumat, 19-Mei-2006, 09:</span></span><span class="smalltype"><span style="Garamond;">08:07</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>2.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">Smaldino, Sharon E, 2008, “Instructional Technology and Media for Learning”, Merrill Prentice Hall, Ohio</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>3.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>4.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">Makalah Kuliah Dr. Purwanto</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="Garamond;" lang="IN"><span>5.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="Garamond;" lang="IN">Makalah Kuliah Prof. Dr. Sudarsono Sudirdjo</span></p>
<p><strong><span style="Garamond;" lang="IN"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="150%;" lang="IN">MATAKULIAH:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="18pt;" lang="IN">PENGEMBANGAN </span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="200%;" lang="IN">SUMBER BELAJAR</span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="18pt;" lang="IN">BUKU PANDUAN SEBAGAI </span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="18pt;" lang="IN">SUMBER BELAJAR DENGAN METODE </span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="150%;" lang="IN">PROGRAM INSTRUKSIONAL</span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="14pt;" lang="IN">Dosen Pembimbing:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="150%;" lang="IN">Dr. Purwanto</span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;">
<p class="MsoTitle" style="center;">
<p class="MsoTitle" style="center;">
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="150%;" lang="IN"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="14pt;" lang="IN">Disusun oleh:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="14pt;" lang="IN">Iwan Hendrawan</span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="150%;" lang="IN">7116070010</span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;">
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="150%;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="12pt;" lang="IN">Teknologi Pendidikan</span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="12pt;" lang="IN">Program Pasca Sarjana</span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="12pt;" lang="IN">Universitas Negeri Jakarta</span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;"><span style="12pt;" lang="IN">2009</span></p>
<p class="MsoTitle" style="center;">
<p class="MsoTitle" style="center;">(Lampiran <span style="150%;" lang="IN">BUKU PANDUAN MEMBUAT EMAIL saya email ke Bapak karena ukuran file yang besar.)<br />
</span></p>
<p class='vc_tag'>&nbsp;Viewed&nbsp;333566&nbsp;times&nbsp;by&nbsp;5381&nbsp;viewers</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://purwanto.web.id/?feed=rss2&amp;p=141</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa Alasan Kenapa Guru Malas Meneliti</title>
		<link>http://purwanto.web.id/?p=138</link>
		<comments>http://purwanto.web.id/?p=138#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 01:18:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wijayalabs</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Penelitian]]></category>

		<category><![CDATA[Buku PTK]]></category>

		<category><![CDATA[Penelitian Tindakan Kelas]]></category>

		<category><![CDATA[PTK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://purwanto.web.id/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[
Siang tadi, saya diminta oleh Kelompok Peneliti Muda (KPM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) untuk menjadi pembicara Seminar Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di aula perpustakaan UNJ. Tadinya saya berpikir paling-paling yang datang hanya sedikit dan tidak lebih dari 20 orang mahasiswa. Namun perkiraan saya meleset. Ternyata yang datang ke seminar itu cukup banyak. Bila dihitung dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview">
<p style="justify;">Siang tadi, saya diminta oleh <strong>Kelompok Peneliti Muda</strong> (KPM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) untuk menjadi pembicara Seminar <strong>Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di aula perpustakaan UNJ.</strong> Tadinya saya berpikir paling-paling yang datang hanya sedikit dan tidak lebih dari 20 orang mahasiswa. Namun perkiraan saya meleset. Ternyata yang datang ke seminar itu cukup banyak. Bila dihitung dengan panitianya bisa lebih dari 100 orang-an.</p>
<p><span id="more-138"></span></p>
<p style="justify;">Karena telah terbiasa menjadi pembicara seminar di tingkat nasional, saya langsung merubah strategi presentasi saya. Cuplikan Film <strong>“Untuk Sebuah Perjuangan” </strong>hasil karya anak-anak SMP Labschool Jakarta saya putar lebih dulu. Hasilnya lumayan berhasil sehingga dapat menggiring dan memotivasi peserta (yang umumnya para guru di DKI Jakarta) untuk melaksanakan penelitian yang membutuhkan sebuah perjuangan.</p>
<p style="justify;">Perjuangan yang paling berat itu adalah mengalahkan <strong>kemalasan diri</strong> ketika mau memulai meneliti. Meneliti di kelasnya sendiri untuk memperbaiki kualitas pembelajarannya. Itulah yang menjadi topik presentasi saya <strong>“Kenapa guru Takut melakukan PTK”</strong>.</p>
<p style="justify;">Dalam presentasi saya, Ada beberapa alasan kenapa guru takut melaksanakan penelitian di kelasnya sendiri melalui PTK. Beberapa alasan-alasan itu adalah:</p>
<p style="justify;"><strong>1.Guru kurang memahami profesi guru</strong></p>
<p style="justify;">Profesi guru adalah profesi yang sangat mulia. Para guru hendaknya menyadari profesi mulia ini. Guru harus dapat memahami peran dan fungsi guru di sekolah. Guru sekarang bukan hanya guru yang mampu mentransfer ilmunya dengan baik, tetapi juga mampu digugu dan ditiru untuk memberikan tauladan yang tidak hanya sebatas ucapan tapi juga tindakan.</p>
<p style="justify;">Dengan adanya sertifikasi guru, maka profesi guru sekarang ini sudah sejajar dengan profesi lainnya. Sehingga banyak sarjana non kependidikan yang mendaftarkan diri untuk menjadi guru.</p>
<p style="justify;">Profesi guru adalah profesi yang bukan hanya mulia dimata manusia, tetapi juga di mata Allah Karena itu guru harus dapat mengajar dan mendidik dengan hatinya agar dapat menjadi mulia. Hati yang bersih dan suci akan terpancar dari wajahnya yang selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan 5S dalam kesehariannya <em>( Salam, Sapa, Sopan, Senyum, dan Sabar).</em></p>
<p style="justify;"><strong>2. Guru malas membaca buku dan malas menulis</strong></p>
<p style="justify;">Masih banyak guru yang malas membaca. Padahal dari membaca itulah akan terbuka wawasan yang luas dari para guru. Kesibukan-kesibukan mengajar membuat guru merasa kurang sekali waktu untuk membaca. Ini nyata, dan terjadi di sekolah kita. Bukan hanya di sekolah, di rumah pun banyak guru yang malas membaca. Guru harus dapat melawan kebiasaan malas membaca. Ingatlah dengan membaca kita dapat membuka jendela dunia.</p>
<p style="justify;">Pengalaman mengatakan, siapa yang rajin membaca, maka ia akan kaya akan ilmu, namun bila kita malas membaca, maka kemiskinan ilmu akan terasa. Guru yang rajin membaca, otaknya ibarat mesin pencari <strong>google</strong> di internet. Bila ada siswa yang bertanya, memori otaknya langsung bekerja mencari dan menjawab pertanyaan para siswanya dengan cepat dan benar.</p>
<p style="justify;">Sudah bisa dipastikan bila guru malas membaca, maka akan malas pula untuk menulis. Menulis dan membaca seperti kepingan uang logam yang tidak dapat dipisahkan. Guru yang terbiasa membaca, maka ia akan terbiasa menulis. Dari membaca itulah guru mampu membuat kesimpulan dari apa yang dibacanya, kemudian kesimpulan itu ia tuliskan kembali dalam gaya bahasanya sendiri.</p>
<p style="justify;">Menulis itu ibarat pisau yang harus sering diasah. Guru yang rajin menulis, maka ia mempunyai kekuatan tulisan yang sangat tajam, layaknya sebilah pisau. Tulisannya sangat menyentuh hati, dan bermakna. Runut serta mudah dicerna bagi siapa saja yang membacanya.</p>
<p style="justify;"><strong>3. Guru kurang sensitif terhadap waktu dan terjebak dalam rutinitas kerja</strong></p>
<p style="justify;">Bagi guru yang kurang memanfaatkan waktunya dengan baik, maka tidak akan banyak prestasi yang ia raih dalam hidupnya. Dia akan terbunuh oleh waktu yang ia sia-siakan. Karena itu guru harus sensitif terhadap waktu. Terjaga dari sesuatu yang kurang bermanfaat.</p>
<p style="justify;">Saat kita memuliakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang mulia. Karena itu, kualitas seorang guru terlihat dari cara ia memperlakukan waktu dengan baik. Guru yang sukses dalam hidupnya adalah yang pandai <strong><em>memanage waktu</em></strong> dengan baik. Waktunya benar-benar sangat berharga dan berkualitas. Setiap waktunya terprogram dengan baik.</p>
<p style="justify;">Guru harus pandai mengatur rutinitas kerjanya. Jangan sampai guru terjebak sendiri dengan rutinitasnya yang justru tidak menghantarkan dia menjadi guru yang dapat diteladani anak didiknya. Guru harus pandai mensiasati pembagian waktu kerjanya. Buatlah jadwal yang terencana. Buang kebiasan-kebiasaan yang membawa guru untuk tidak terjebak di dalam rutinitas kerja, misalnya: membuat diari atau catatan harian yang ditulis dalam agenda guru, atau di dalam blog internet, dan lain-lain.</p>
<p style="justify;">Rutinitas kerja tanpa sadar membuat guru telah terpola menjadi guru yang kurang berkualitas. Hari-harinya diisi hanya untuk mengajar saja. Dia tidak mendidik anak didiknya dengan hati. Waktunya di sekolah hanya sebatas sebagai tugas rutin mengajar yang tidak punya nilai apa-apa. Guru hanya melakukan<strong><em> t</em><em>ransfer of knowledge.</em></strong> Tak ada upaya untuk keluar dari rutinitas kerjanya yang sudah membosankan. Bahkan sampai saatnya memasuki pensiun.</p>
<p style="justify;"><strong>4.Guru kurang kreatif dan inovatif serta malas meneliti</strong></p>
<p style="justify;">Merasa sudah berpengalaman membuat guru menjadi <strong>kurang kreatif. </strong>Guru malas mencoba sesuatu yang baru dalam proses pembelajarannya. Dia merasa sudah cukup. Tidak ada upaya untuk menciptakan sesuatu yang baru dari pembelajarannya. Misalnya membuat alat peraga atau media pembelajaran. Dari tahun ke tahun gaya mengajarnya itu-itu saja. Rencana Program Pembelajaran (RPP) yang dibuatpun dari tahun ke tahun sama, hanya sekedar <strong><em>copy paste </em></strong>tanggal dan tahun saja. Banyak guru menjadi tidak kreatif.</p>
<p style="justify;">Guru tidak akan pernah menemukan proses kreativitas bila cara-cara yang digunakan dalam pembelajaran adalah <strong>cara-cara lama</strong>. Sekarang ini, sulit sekali mencari guru yang kreatif dan inovatif. Kalaupun ada jumlahnya hanya dapat dihitung dengan dua jari. Guru sekarang lebih mengedepankan penghasilan daripada proses pembelajaran yang kreatif.</p>
<p style="justify;">Setiap tahun pemerintah maupun swasta mengadakan lomba karya tulis ilmiah (LKTI) untuk para guru, dengan harapan guru mau meneliti. Namun, hanya sedikit guru yang memanfaatkan peluang ini dengan baik. Padahal ini sangat baik untuk guru berlatih menulis, dan menyulut guru untuk meneliti. Dari meneliti itulah guru mengetahui kualitas pembelajarannya.</p>
<p style="justify;">Penelitian diselenggarakan untuk memperbaiki hal-hal yang telah dilakukan agar menjadi lebih baik atau menciptakan sesuatu yang baru. Melalui penelitian diharapkan guru menjadi profesional di bidangnya.</p>
<p style="justify;">Sebenarnya meneliti itu tidak sulit. Kesulitan itu sebenarnya berasal dari guru itu sendiri. Guru menganggap meneliti itu bukan tugasnya. Tugas guru hanya mengajar. Meneliti adalah tugas mereka yang ingin naik pangkat. Kalau sudah kepepet barulah guru mau meneliti. Misalnya kalau ingin naik pangkat dari golongan IVA ke IVB. Kalau tidak, maka pangkatnya tidak akan naik. Data di depdiknas membuktikan bahwa guru golongan IVA terlalu banyak, dan guru golongan IVB masih sangat sedikit. Banyak guru yang mengalami kesulitan dalam meneliti dan melaporkan hasil penelitiannya.</p>
<p style="justify;"><strong>5.Guru kurang memahami PTK</strong></p>
<p style="justify;">Banyak guru yang kurang memahami penelitian tindakan kelas atau PTK. Guru menganggap PTK itu sulit. Padahal PTK itu tidak sesulit apa yang dibayangkan. PTK dilakukan dari keseharian guru mengajar. Tidak ada yang sulit, semua dilakukan dengan mudah sebagaimana keseharian guru melakukan pembelajaran di kelas. Guru hanya perlu merenung sedikit <strong>(instropeksi)</strong> dari proses pembelajaran yang telah dilakukannya. Mencatat masalah-masalah yang timbul, dan mencoba mencari solusinya. Ajaklah teman sejawat agar proses observasi dan refleksinya tidak terlalu subyektif.</p>
<p style="justify;">PTK adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merencanakan, melaksanakan, mengamati, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Dari PTK inilah diharapkan terjadi <strong>proses pembelajaran yang kreatif.</strong></p>
<p style="justify;">Setelah memaparkan cukup panjang lebar alasan itu, maka mulailah saya jelaskan manfaat melaksanakan PTK yang diantaranya dapat mengajak para guru untuk menulis dan melaporkan hasil karyanya. Bila banyak penelitian yang dilakukan oleh para guru, maka akan semakin meningkat pula kualitas pembelajaran di sekolah. Karena itu, di akhir presentasi saya katakan, bila bapak/ibu guru berani melakukan PTK, maka tahun ini tersedia tiket untuk mengikuti <a href="http://ditpropen.net/"title="direktorat profesi guru"  target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/ditpropen.net');"><strong>Lomba Keberhasilan Guru Dalam Pembelajaran tahun 2009.</strong></a></p>
<p style="justify;">Semoga apa yang saya sampaikan dalam presentasi seminar tersebut dapat menyulut para guru agar berani melakukan PTK di kelasnya sendiri. Saya pun berharap agar para guru menjadi Guru Profesional melalui PTK.</p>
<p style="justify;">Setelah presentasi, rupanya banyak guru yang meminta No.Hp dan membeli <a href="http://wijayalabs.blogspot.com/"title="wijaya kusumah Blog"  target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/wijayalabs.blogspot.com');">buku PTK</a> yang saya susun bersama pak <a href="http://dedidwitagama.wordpress.com/"title="dedi dwitagama blog"  target="_blank" onclick="javascript:urchinTracker ('/outbound/article/dedidwitagama.wordpress.com');">Dedi Dwitagama</a>. Saya pun diminta mereka untuk mengajari bagaimana membuat proposal dan melaporkan PTK.</p>
<p style="justify;">Semoga dengan diadakannya kegiatan seminar ini akan banyak guru yang mampu untuk meneliti. Amin.</p>
</div>
<p class='vc_tag'>&nbsp;Viewed&nbsp;325528&nbsp;times&nbsp;by&nbsp;2885&nbsp;viewers</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://purwanto.web.id/?feed=rss2&amp;p=138</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Memanfatkan Alam Sebagai Sumber Belajar Mengambar Ilustrasi Pada Pembelajaran Seni Rupa</title>
		<link>http://purwanto.web.id/?p=129</link>
		<comments>http://purwanto.web.id/?p=129#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 06:32:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eza Y.A Kherid</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Mahasiswa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://purwanto.web.id/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Ass, Pak Purwanto Ini Makalah Akhir Siti Rohmawati Mahasiswa S2 TP Angkatan Wijaya Kusuma. Filenya dapat dibaca disini:
memanfaatkan-alam-sebagai-sumber-belajar-ilustrasi-pada-pembelajaran-seni-rupa-siti-rohmawati-s2-tp-angkatan-2007
Maaf Atas keterlambatannya, karena berkali2 saya kesulitan mengirim via blog.
saat ini pun login menggunakan Register Via Eza Y.A Kherid.
Terimakasih.
&#160;Viewed&#160;322874&#160;times&#160;by&#160;2825&#160;viewers]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ass, Pak Purwanto Ini Makalah Akhir Siti Rohmawati Mahasiswa S2 TP Angkatan Wijaya Kusuma. Filenya dapat dibaca disini:</p>
<p><a href="http://purwanto.web.id/wp-content/uploads/2009/01/memanfaatkan-alam-sebagai-sumber-belajar-ilustrasi-pada-pembelajaran-seni-rupa-siti-rohmawati-s2-tp-angkatan-2007.doc" >memanfaatkan-alam-sebagai-sumber-belajar-ilustrasi-pada-pembelajaran-seni-rupa-siti-rohmawati-s2-tp-angkatan-2007</a></p>
<p>Maaf Atas keterlambatannya, karena berkali2 saya kesulitan mengirim via blog.<br />
saat ini pun login menggunakan Register Via Eza Y.A Kherid.<br />
Terimakasih.</p>
<p class='vc_tag'>&nbsp;Viewed&nbsp;322875&nbsp;times&nbsp;by&nbsp;2825&nbsp;viewers</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://purwanto.web.id/?feed=rss2&amp;p=129</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perpustakaan ONLINE</title>
		<link>http://purwanto.web.id/?p=121</link>
		<comments>http://purwanto.web.id/?p=121#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 14:41:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MSujaiAnhar</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://purwanto.web.id/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan
Perkembangan dan kemajuan masyarakat dapat dinilai dari kesadaran penduduknya terhadap pendidikan, kesadaran akan dunia pendidikan akan sangat bergantung kepada sumber-sumber ilmu. 
Perpustakaan adalah salah satu sarana yang dapat dijadikan sumber ilmu, namun dikarenakan keterbatasan ruang, waktu dan dana, maka perpustakaan sekarang haruslah bersifat lebih efektif dan efisien.
Menurut kamus The Oxford English Dictionary, kata “library” atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="black;">Pendahuluan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Perkembangan dan kemajuan masyarakat dapat dinilai dari kesadaran penduduknya terhadap pendidikan, kesadaran akan dunia pendidikan akan sangat bergantung kepada sumber-sumber ilmu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Perpustakaan adalah salah satu sarana yang dapat dijadikan sumber ilmu, namun dikarenakan keterbatasan ruang, waktu dan dana, maka perpustakaan sekarang haruslah bersifat lebih efektif dan efisien.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;" lang="EN-US">Menurut kamus <em>The Oxford English Dictionary</em>, kata “library” atau perpustakaan mulai digunakan dalam bahasa Inggris tahun 1374, yang berarti sebagai “suatu tempat buku-buku diatur untuk dibaca, dipelajari atau dipakai sebagai bahan rujukan”</span><span style="black;">. Konsep perpustakaan ini sudah mulai bergeser, dikarenakan tuntutan zaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Perpustakaan online, adalah perpustakaan yang lebih ideal dan lebih menarik, disamping karena kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat akan sumber ilmu, yakni perpustakaan yang memadai, juga perpustakaan yang dapat diakses oleh banyak orang dan dapat diakses dimana saja. Perpustakaan online, sebenarnya memiliki konsep dasar seperti perpustakaan biasa, namun sistem yang digunakan menggunakan teknologi yang lebih baik, dan sumber-sumber yang tersedia pun sangat bergantung dari<span> </span>para kontributor yang ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Perpustakaan online akan memberikan kontribusi yang signifikan kepada masyarakat luas, karena sifatnya yang a synchonose, dan dapat diakses dari banyak daerah. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh perpustakaan online, akan sangat menarik dibandingkan daripada perpustakaan biasa. Seperti halnya ensiklopedi-ensiklopedi yang ada di dunia maya saat ini, sudah sangat membantu kepada para pencari ilmu mau pun para browser yang ada. Hanya saja, perkembangan perpustakaan online yang bersifat nasional dan mencakup akan seluruh informasi di Indonesia, belum tergarap dengan baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="black;"><span>B.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="black;">Pembahasan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="black;"><span>1.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="black;">Sumber pengetahuan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Perkembangan ilmu pengetahuan sangat bergantung kepada sumber pengetahuan, semakin banyak sumber pengetahuan dan semakin mudah sumber pengetahuan untuk diakses, maka akan semakin cepat proses perkembangan ilmu pengetahuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;" lang="EN-US">Pada tahun 1970, <em>The American Library Association</em> menggunakan istilah perpustakaan untuk suatu pengertian yang luas yaitu termasuk pengertian “pusat media, pusat belajar, pusat sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumenstasi dan pusat rujukan.“</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Manusia, alam sekitar, buku, komputer dan seluruh perangkat media yang sangat pesat perkembangannya pada saat ini, dapat dijadikan sumber pengetahuan. Perkembangan teknologi memberikan dampak yang sangat besar terhadap kemudahan orang akan mendapatkan informasi, kemudahan dalam menerima dan mengirimkan informasi. Sehingga tingkat interaksi secara tidak langsung sudah meningkat dengan pesat. Keterbatasan geografi dan keterbatasan akan waktu, telah dikurangi secara signifikan oleh perkembangan teknologi. Sehingga akses setiap orang akan sumber belajar, menjadi sangat mudah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Perpustakaan online adalah alternatif yang paling tepat pada saat ini, untuk menjawab pertanyaan orang akan buku-buku, informasi, dan lain-lain. Sehingga lembaga perpustakaan online adalah lembaga yang berkonsentrasi penuh untuk mengumpulkan sumber-sumber yang ada, yang dibutuhkan untuk terciptanya sebuah perpustakaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="black;"><span>2.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="black;">Pemanfaatan sumber pengetahuan (kemudahan akses)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Pemanfaatan sumber pengetahuan ditinjau dari sudut kemudahan dalam mengaksesnya, maka perpustakaan menjadi salah satu pilihan yang sangat ideal, karena buku-buku dan segala informasi yang dapat dikumpulkan dalam perpustakaan, akan sangat membantu pembelajar, membantu untuk menjadikannya rujukan, dan membantu untuk menemukan sesuatu yang baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Berdasarkan perkembangan teknologi, dan perkembangan informasi, maka dimungkinkan untuk dibentuknya perpustakaan online, dengan konsep dasar seperti perpustakaan biasa. Perbedaannya adalah, akses untuk mendapatkan buku atau sumber, hanya melalui media komputer, baik secara intranet maupun internet.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Jika hanya dikembangkan dalam lingkup yang terbatas dan wilayah yang sempit, maka akses dapat digunakan dalam bentuk intranet, komputer induk (server) menjadi pusat data, dan para pengguna yang lain dapat mengakses dengan membuat jaringan yang terkoneksi dengan server.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Apabila dikembangkan dengan sekala besar dan bersifat luas, maka akses dapat dilakukan melalui internet. Pusat data diletakkan dalam bentuk website, dengan menggunakan provider yang memang memiliki kapasitas akses besar. Seluruh data yang ada, disimpan dan upload secara berkala ke pusat data.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Kelebihan dari perpustakaan online dari perpustakaan biasa yang sangat kentara adalah, waktu untuk mengakses data, yakni memiliki waktu yang lebih fleksibel, dan dapat diakses secara bersamaan dengan yang lain..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="black;"><span>3.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="black;">Pengelolaan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Dalam hal pengelolaan perpustakaan online, sedikit berbeda dengan perpustakaan biasa, yakni seluruh komunikasi yang ada, sangat bergantung kepada user, sehingga seluruh fasilitas untuk mengakses data, seluruhnya sudah ditampilkan di dalam menu. Petugas perpustakaan hanya menjaga lalulintas komunikasi apabila terjadi, untuk keperluan pencarian buku yang belum ada atau untuk menerima masukan-masukan akan kemajuan perpustakaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Petugas perpustakaan akan mengupload data-data yang baru, dan merevisinya apabila diperlukan, memberikan pelayanan register apabila diperlukan. Untuk ini, pola yang ditawarkan dalam menjalankan perpustakaan terbagi menjadi dua. Pertama, dapat diakses secara bebas, sehingga semua orang dapat masuk dan mengakses data yang ada, tidak dibutuhkan register atau persyaratan tertentu untuk masuk, kedua, diakses secara terbatas, yakni harus mendaftarkan diri terlebih dahulu atau harus menjadi anggota terlebih dahulu. Seperti halnya kampus-kampus yang telah maju, maka akses menuju perpustakaan online, harus memasukkan nomor induk mahasiswa yang bersangkutan, sehingga akses menuju perpustakaan terseleksi secara sendirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Pengelolaan perpustakaan online, juga sangat bergantung kepada perkembangan teknologi, ketika teknologi yang akan datang memberikan kemudah yang lebih baik, maka teknologi tersebut langsung dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pelayananan perpustakaan online.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="black;"><span>4.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="black;">Pemanfaatan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Dalam hal pemanfaatan sumber belajar yang terbilang masih dalam proses pengembangan, maka kehadiran perpustakaan online masih sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat, baik secara bentuk yang idealnya, maupun dalam bentuk layanan yang dapat dijadikan sumber pengetahuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Pemanfaatan perpustakaan online akan tersekmentasi secara alami, karena para pengunjung yang datang adalah mereka-mereka yang memiliki kepentingan terhadap sumber yang ada. Oleh karena itu, konten yang ada harus dibuat semenarik mungkin, dan dapat juga dikembangkan secara interaktif dan mandiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="black;"><span>5.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="black;">Kelemahan dan kekurangan dari perpustakaan online</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Bila dibandingkan dengan perpustakaan biasa, maka perpustakaan online memiliki kelebihan dan kekurangan, diantaranya:</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="28.8pt;" width="38" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="black;">NO</span></strong></p>
</td>
<td style="1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="148" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="black;">BERDASARKAN</span></strong></p>
</td>
<td style="1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="black;">PERPUSTAKAAN BIASA</span></strong></p>
</td>
<td style="1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="177" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="black;">PERPUSTAKAAN ONLINE</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="medium 1pt 1pt none solid solid -moz-use-text-color windowtext windowtext;" width="38" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="black;">1</span></strong></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="148" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Waktu</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Terbatas jam kerja</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="177" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Tidak terbatas,   selama data sudah diupload</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="medium 1pt 1pt none solid solid -moz-use-text-color windowtext windowtext;" width="38" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="black;">2</span></strong></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="148" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Pengelolaan</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">sederhana</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="177" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Lebih rumit</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="medium 1pt 1pt none solid solid -moz-use-text-color windowtext windowtext;" width="38" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="black;">3</span></strong></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="148" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Jangkauan</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Terbatas</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="177" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Terbatas dan tidak   terbatas</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="medium 1pt 1pt none solid solid -moz-use-text-color windowtext windowtext;" width="38" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="black;">4</span></strong></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="148" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Isi / buku / konten</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Terbatas yang telah   dimiliki perpustakaan</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="177" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Tidak terbatas,   dengan mengadakan hyperlink</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="medium 1pt 1pt none solid solid -moz-use-text-color windowtext windowtext;" width="38" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="black;">5</span></strong></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="148" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Biaya</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Sedang – besar   (tergantung dari kapasitas buku)</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="177" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Besar pada   permulaan</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="medium 1pt 1pt none solid solid -moz-use-text-color windowtext windowtext;" width="38" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="black;">6</span></strong></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="148" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Tempat</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Membutuhkan tempat   yang baik dan terawat dan berdasarkan jumlah buku</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="177" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Tidak terlalu besar</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="medium 1pt 1pt none solid solid -moz-use-text-color windowtext windowtext;" width="38" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="black;">7</span></strong></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="148" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Manfaat</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Besar – terbatas</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="177" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Besar – tidak   terbatas</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="medium 1pt 1pt none solid solid -moz-use-text-color windowtext windowtext;" width="38" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="black;">8</span></strong></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="148" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Keterbatasan</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Biaya untuk   pembelian buku</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="177" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Tidak semua buku   tersedia dalam bentuk ebook, dan tidak semua buku lama tersedia dalam ebook</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="medium 1pt 1pt none solid solid -moz-use-text-color windowtext windowtext;" width="38" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;" align="center"><strong><span style="black;">9</span></strong></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="148" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Sarana pendukung</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="180" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">terbatas</span></p>
</td>
<td style="medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="177" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Tidak terbatas,   selama dapat meningkatkan minat da pengembangan program perpustakaan online   (games, video, tips, dll)</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ol type="A">
<li class="MsoNormal"><span style="&quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Penutup</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="black;"><span>1.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="black;">Kesimpulan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Berdasarkan perkembangan dan melihat kondisi yang ada, maka penulis menyimpulkan:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="&quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Perpustakaan      online merupakan solusi yang baik untuk meningkatkan sumber belajar yang      ada</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="&quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Perpustakaan      online akan sangat membantu kualitas pendidikan kita.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="&quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Perpustakaan      akan banyak diakses oleh para pengguna internet untuk dijadikan rujukan      dalam mencari informasi </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="&quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Berdasarkan      pemaparan yang ada, maka pemerintah dapat mengadakan perpustakaan yang      baik dan dapat membantu percepatan pertumbuhan pendidikan</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="black;"><span>2.<span style="none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="black;">Saran</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="black;">Berdasarkan pengamatan, maka penulis memberikan saran:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="&quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Harus      dibentuk badan atau lembaga khusus untuk membentuk perpustakaan online</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="&quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Diberikan      penyuluhan dan penyadaran kepada masyarakat, akan pentingnya sumber      pengetahuan dan kemudahannya dalam mengakses sumber tersebut.</span></li>
</ol>
<p class='vc_tag'>&nbsp;Viewed&nbsp;304856&nbsp;times&nbsp;by&nbsp;2325&nbsp;viewers</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://purwanto.web.id/?feed=rss2&amp;p=121</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perpustakaan Digital (Digital Library)  Sebagai Alternatif Pengembangan Pusat Sumber Belajar Di Sekolah</title>
		<link>http://purwanto.web.id/?p=113</link>
		<comments>http://purwanto.web.id/?p=113#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 13:19:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ROSIMAN</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Mahasiswa]]></category>

		<category><![CDATA[teknologi pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Perpustakaan digital]]></category>

		<category><![CDATA[sumber belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://purwanto.web.id/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Digital Library Federation (1995) mendefinisikan perpustakaan digital sebagai organisasi yang menyediakan berbagai sumber daya, termasuk staf yang mampu melakukan pekerjaan menyeleksi, menata, menyediakan akses intelektual, menginterpretasikan, mendistribusikan, melestarikan keutuhan koleksi karya digital, termasuk memastikan ketersediaan dari waktu ke waktu agar bisa didapat dengan mudah, murah oleh komunitas atau sekumpulan komunitas tertentu.makalah-pengembangan-sumber-belajar-1c4
&#160;Viewed&#160;302126&#160;times&#160;by&#160;1969&#160;viewers]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="ES-TRAD;" lang="ES-TRAD"><span style="small;">Digital Library Federation (1995) mendefinisikan perpustakaan digital sebagai organisasi yang menyediakan berbagai sumber daya, termasuk staf yang mampu melakukan pekerjaan menyeleksi, menata, menyediakan akses intelektual, menginterpretasikan, mendistribusikan, melestarikan keutuhan koleksi karya digital, termasuk memastikan ketersediaan dari waktu ke waktu agar bisa didapat dengan mudah, murah oleh komunitas atau sekumpulan komunitas tertentu.<span style="ES-TRAD;" lang="ES-TRAD"><span style="small;"><a href="http://purwanto.web.id/wp-content/uploads/2009/01/makalah-pengembangan-sumber-belajar-1c4.pdf" >makalah-pengembangan-sumber-belajar-1c4</a></span></span></span></span></p>
<p class='vc_tag'>&nbsp;Viewed&nbsp;302127&nbsp;times&nbsp;by&nbsp;1969&nbsp;viewers</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://purwanto.web.id/?feed=rss2&amp;p=113</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pengembangan Pusat Sumber Belajar di Sekolah</title>
		<link>http://purwanto.web.id/?p=114</link>
		<comments>http://purwanto.web.id/?p=114#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 13:13:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wijayalabs</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[pengembangan sumber belajar]]></category>

		<category><![CDATA[sudarsono sudirdjo]]></category>

		<category><![CDATA[sumber belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://purwanto.web.id/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Prof.DR.Sudarsono Sudirdjo, M.Sc.Ed.
Universitas Negeri Jakarta


Pengantar
Sejak pertengahan decade 1970-an terdapat perkembangan yang pesat di bidang dan konsep teknologi pendidikan dan teknologi instruksional (pembelajaran) dalam dunia pendidikan dan pembelajaran, tidak saja di Amerika Serikat tetapi juga di negara-negara lain seperti Canada, Australia, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, dan tentunya juga di Indonesia. Konsep teknologi pendidikan menekankan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="center;" align="center"><strong><em><span style="Arial;">Oleh<span> </span>Prof.DR.Sudarsono Sudirdjo, M.Sc.Ed.</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="center;" align="center"><strong><em><span style="Arial;">Universitas Negeri </span></em></strong><strong><em><span style="Arial;">Jakarta</span></em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="200%;"><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="200%;"><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify"><span style="Arial;"></span><strong><em><span style="Arial;">Pengantar</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify"><strong><em><span style="Arial;"></span></em></strong><span style="Arial;">Sejak pertengahan decade 1970-an terdapat perkembangan yang pesat di bidang dan konsep teknologi pendidikan dan teknologi instruksional (pembelajaran) dalam dunia pendidikan dan pembelajaran, tidak saja di Amerika Serikat tetapi juga di negara-negara lain seperti Canada, Australia, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, dan tentunya juga di Indonesia. Konsep teknologi pendidikan menekankan kepada individu yang belajar melalui pemanfaatan dan penggunaan berbagai jenis sumber belajar.</span><strong><em></em></strong></p>
<p style="justify"><span id="more-114"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Hal ini tentunya merupakan suatu pandangan yang baru atau yang bersifat inovatif, karena pandangan masyarakat pada umumnya mengenai pendidikan adalah<span> </span>bersifat konvensional yaitu mengkaitkan penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran yang terjadi atau berlangsung di dalam kelas, di mana sejumlah murid atau peserta belajar secara bersama-sama memperoleh pelajaran dari seorang guru atau instruktur. Guru atau intruktur tersebut berperan terutama sebagai satu-satunya sumber belajar yang paling dominan dalam proses pembelajaran tersebut. Hal ini seringkali berakibat menjadinya proses pemberian pelajaran oleh guru atau instruktur bersifat verbalistis, karena guru sangat dominan menggunakan lambang verbal dalam melaksanakan proses pembelajaran yang umumnya dilakukan melalui penggunaan metode ceramah. Begitu dominannya guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah tersebut sehingga menyebabkan guru kurang mempunyai waktu untuk memberikan bimbingan dan bantuan<span> </span>dalam rangka memberikan kemudahan bagi murid-murid dalam kegiatan belajar mereka.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Di samping<span> </span>makin meluasnya penggunaan sumber belajar dalam proses pembelajaran di berbagai lembaga pendidikan, peran dan sumbangan teknologi pendidikan lainnya yang paling monumental dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran adalah dilaksanakannya sistem pendidikan terbuka <em>(open learning</em>) atau pendidikan/belajar jarak jauh (<em>distance education)</em>.sebagai jaringan<span> </span>pembelajaran yang bersifat inovatif dalam sistem pendidikan.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"> </p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><strong><em><span lang="NO-BOK">Arti dan Jenis Sumber Belajar</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><strong><em><span lang="NO-BOK"></span></em></strong>Dalam pasal 1 no 20 Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang<span> </span>Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa “<em>pembelajaran</em> adalah proses interaksi peserta didik dengan<span> </span>pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.<span> </span>Dari apa yang terdapat dalam Undang-Undang RI tentang Sisdiknas tersebut jelaslah bahwa sumber belajar,<span> </span>di samping pendidik, mutlak diperlukan dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Hal ini disebabkan karena <em>proses pembelajaran hanya akan berlangsung apabila terdapat interaksi antara peserta didik dengan sumber belajar dan pendidik</em>. Dengan kata lain tanpa sumber<span> </span>belajar maka pembelajaran tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan<span> </span>optimal, karena tidaklah mencukupi untuk mewujudkan pembelajaran bila interaksi yang terjadi hanya<span> </span>antara peserta didik dengan pendidik saja.<span> </span>Yang sangat diperlukan dari pendidik terutama adalah perannya dalam memberikan motivasi, arahan, bimbingan, konseling, dan kemudahan (fasilitasi) bagi berlangsungnya proses belajar dan pembelajaran yang<span> </span>dialami oleh peserta didik dalam keseluruhan proses belajarnya.<span> </span>Sedang sumber belajar berperan dalam menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan yang diperlukan dalam mengembangkan berbagai kompetensi yang diinginkan pada bidang studi atau mata pelajaran yang dipelajarinya.<span> </span>Oleh karena itu<span> </span>sumber belajar<span> </span>yang beraneka ragaam, di antaranya berupa bahan<span> </span>(media) pembelajaran memberikan sumbangan yang positif dalam peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran.<span> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Menurut AECT (Association of Education and<span> </span>Communication Technology),</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">terdapat enam macam sumber belajar yaitu <em>pesan, orang, bahan, alat, teknik dan latar / lingkungan</em>. Keenam sumber belajar<span> </span>tersebut juga merupakan komponen system pembelajaran, artinya dalam setiap kegiatan pembelajaran (padanan untuk<span> </span>kata <em>instructional</em>), selalu terdapat keenam komponen tersebut. <em>Pesan</em> adalah kurikulum atau mata pelajaran yang terdapat pada masing-masing sekolah atau jenjang pendidikan dan yang perlu dipelajari oleh murid, <em>orang</em>, antara lain guru, tutor, pembimbing<span> </span>dan sebagainya adalah<span> </span>yang menyampaikan pesan pembelajaran kepada siswa, <em>bahan</em> adalah<span> </span>program yang memuat atau berisi pesan pembelajaran seperti buku, program video atau audio, VCD dan lain-lain,<em> alat</em> adalah sarana untuk menayangkan bahan atau program seperti proyektor film, video recorder, OHP, dan sebagainya, <em>teknik</em> adalah<span> </span>prosedur yang digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran seperti diskusi, karyawisata, demonstrasi, ceramah, dan sebagainya, dan yang terakhir adalah <em>latar (settings)</em> yaitu lingkungan di mana belajar dan pembelajaran berlangsung misalnya di kelas, di taman, penerangan dan ventilasi ruangan, dan sebagainya.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Agar dapat berfungsi secara optimal dalam kegiatan belajar dan pembelajaran, sumber belajar tersebut perlu dikembangkan dan dikelola dengan sebaik-baiknya, yang meliputi berbagai<span> </span>kegiatan seperti <em>pengadaan, produksi, penyimpanan, distribusi dan pemanfaatan,</em> agar sumber belajar tersebut benar-benar dapat digunakan secara optimal untuk kepentingan kegiatan belajar dan pembelajaran.<span> </span>Lembaga yang mempunyai tugas untuk mengembangkan dan mengelola berbagai sumber belajar yang secara mutlak diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan belajar dan pembelajaran tersebut adalah <em>Pusat Sumber Belajar. </em>Sebagai suatu lembaga atau unit yang tugasnya mengembangkan dan mengelola sumber belajar dalam rangka memberikan kemudahan bagi penyelenggaraan kegiatan pembelajaran,<span> </span>maka dari enam macam sumber belajar yang sudah dijelaskan di atas hanya ada dua jenis sumber belajar yang<strong><em> </em></strong>perlu dikembangkan dan dikelola oleh Pusat Sumber Belajar yaitu <strong><em>bahan </em></strong><em>(material)<strong> </strong></em><span>dan</span><strong><em> alat </em></strong><em>(device).</em> Yang termasuk sumber belajar<em> <strong>bahan</strong></em><strong> </strong>adalah<span> </span><em>“printed materials</em>” seperti buku, atlas, ensiklopedia, kamus, modul, bahan pembelajaran terprogram (<em>programmed instruction</em>), dan sebagainya,<span> </span>program proyeksi <em>(projected materials), baik bergerak maupun tidak bergerak </em>seperti program slide suara, program film, program transparansi, dan sebagainya, dan <em>bahan belajar elektronik</em> seperti misalnya seperti program video, VCD, program audio, program pembelajaran berbasis computer <em>(computer assisted instruction</em>). Yang termasuk sumber belajar <strong><em>“alat </em></strong><em>(device)”</em> adalah alat-alat yang digunakan untuk menyajikan bahan<span> </span>seperti misalnya proyektor slide, proyektor film,<span> </span>proyektor transparansi (OHP), video recorder, tape recorder. dan sebagainya.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Pemanfaatan bahan-bahan (<em>materials)</em> belajar untuk kegiatan belajar dan pembelajaran ada yang tidak memerlukan alat penyaji seperti misalnya bahan-bahan cetakan <em>(printed materials)</em> meliputi<span> </span>buku, peta, modul, dan sebagainya. Sedangkan bahan belajar yang pemanfaatannya memerlukan alat penyaji adalah misalnya program VCD memerlukan <em>VCD player</em>, program CAI (<em>Computer Assisted Instruction</em>) memerlukan computer, program slide suara memerlukan <em>slide projector</em> dan <em>cassette recorder</em>, program film (<em>motion pictures</em>) memerlukan projector film, dan sebagainya.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Bahan-bahan (sumber belajar) yang akan dikembangkan dan dikelola oleh Pusat<span> </span>Sumber Belajar untuk memberikan kemudahan untuk proses belajar dan pembelajaran dapat dibedakan dalam dua macam yaitu (1) sumber belajar yang dirancang <em>(Learning Resource by design</em><span>) dan (2)</span><em> s</em>umber belajar yang dimanfaatkan (<em>Learning Resource by utilization).</em></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Sumber belajar yang dirancang (<em>by design</em>) adalah sumber belajar yang dirancang dengan secara sengaja dan sistematis untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Pengembangan bahan atau sumber belajar tersebut diawali dengan<span> </span>suatu kegiatan menganalisis kebutuhan (“<em>need analysis</em>” atau disebut juga “<em>need assessment</em>”), kemudian dilanjutkan dengan perumusan tujuan yang ingin dicapai, menganalisis karakteristik peserta belajarnya, materi yang ingin diberikan, menentukan media yang cocok dengan tujuan dan karakteristik learner, pengembangan program prototipa, uji coba, serta diakhiri dengan revisi. Idealnya, dalam suatu Pusat Sumner Belajar seyogyanya mempunyai koleksi yang memadai bahan-bahan belajar yang dirancang dengan sengaja dan sistematis seperti ini<span> </span>yang<span> </span>dianalisis berdasarkan kebutuhan sehingga dapat membantu dan mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran. Untuk itu dalam Pusat Sumber Belajar diperlukan tidak saja peralatan produksi media<span> </span>yang memadai tetapi juga sumber daya manusia yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan dalam produksi dan pengembangan media pembelajaran.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Sumber belajar yang dimanfaatkan <em>(learning resources by utilization</em>) adalah sumber belajar yang pengadaannya tidak dirancang oleh Pusat Sumber Belajar sendiri untuk kepentingan kegiatan belajar dan pembelajaran para peserta belajar/ siswa di sekolah, tetapi diperoleh dari luar karena<span> </span>dibeli, hibah, dimanfaatkan dan sebagainya untuk kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Sumber belajar yang dimanfaatkan ini awalnya tidak dirancang secara sengaja untuk keperluan pembelajaran di sekolah/madrasah tetapi kemudian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan belajar dan pembelajaran. Contoh yang sederhana misalnya<span> </span>buku-buku pelajaran, gambar di majalah,<span> </span>berbagai model (tiruan)<span> </span>seperti hati, jantung, dan sebgainya adalah merupakan sumber belajar yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar dan pembelajaran.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Semua bahan belajar yang telah dimiliki dan dikoleksi oleh bagian atau unit yang dinamakan Perpustakaan, yang sebenarnya merupakan awal Pusat Sumber Belajar, baik yang dirancang sendiri maupun yang dimanfaatkan, hendaknya<span> </span>dipelihara dan disimpan dengan baik agar tidak mudah rusak atau hilang dan dapat didistribusikan atau disirkulasikan penggunaannya secara optimal dalam lingkungan sekolah/madrasah, agar dapat menunjang dan memberikan kemudahan bagi pelaksanaan kegiatan belajar dan pembelajaran yang diselenggarakan di lembaga pendidikan tersebut.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Dilihat dari segi fungsi dan peran setiap bahan (sumber) belajar, terutama kemampuannya dalam melakukan interaksi dan komunikasi dengan<span> </span>para peserta belajar, dapat dibedakan dua macam<span> </span>bahan belajar yaitu:alat<strong><em> peraga </em></strong><em>(teaching aids)<strong> </strong></em>atau alat<strong><em> audio visual </em></strong><em>(audio-visual aids)</em> dan <strong><em>media pembelajaran.</em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Alat peraga atau alat audio visual berfungsi untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, sehingga pelajaran yang diberikan kepada siswa tidak bersifat verbalistis yang bersifat abstrak melainkan sebaliknya bersifat <em>konkrit</em>, sehingga pesan yang disampaikan dalam proses pembelajaran dapat lebih mudah dipahami oleh <em>learners</em>. Michael Molenda dkk menyebut bahan belajar yang demikian dengan istilah ”<em>Instructor’s<span> </span>dependent instruction”</em> yang berarti bahwa<span> </span>instruktur memegang peranan yang dominan dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Ini berarti<span> </span>bahwa instruktur berperan sebagai sumber belajar<span> </span>utama, jika bukan satu-satunya. Pelajaran yang disampaikan menjadi sangat bersifat <em>abstrak </em>dan sulit dicernakan oleh siswa, karena <em>lambang verbal yang diceramahkan bersifat abstrak.</em> Begitu dominannya guru melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah tersebut sehingga menyebabkan guru kurang mempunyai waktu untuk memberikan bimbingan, bantuan<span> </span>dan<span> </span>kemudahan bagi<span> </span>murid-murid yang membutuhkannya.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Sedangkan bahan belajar yang digunakan guru dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk membantu menjelaskan<span> </span>apa yang diuraikan atau disampaikan oleh guru, sehingga penjelasan guru makin konkrit dan tidak bersifat verbalistis dan dengan demikian pesan<span> </span>pembelajaran dapat diterima dan dimengerti dengan baik oleh murid-murid.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Bahan belajar yang berfungsi sebagai media pembelajaran adalah bahan yang berfungsi sebagai <em>saluran (channel) komunikasi</em> yang dapat menyampaikan pesan pembelajaran kepada siswa/peserta belajar. Molenda menyebut bahan yang berfungsi sebagai saluran komunikasi ini dengan istilah “<em>instructor’s independent instruction</em>” yang berarti bahwa media pembelajaran memegang peranan dominan dan berfungsi sebagai sumber belajar utama dalam pembelajaran karena mampu berkumunikasi secara interaktif dalam menyampaikan pesan pembelajaran kepada<span> </span>peserta belajar (siswa).</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Syarat terpenting<span> </span>untuk mengembangkan bahan belajar yang bersifat “<em>instructor’s independent instruction</em>” yang berfungsi sebagai saluran komunikasi dengan peserta didik adalah bagaimana dapat diusahakan agar bahan belajar tersebut dapat digunakan secara interaktif dengan murid-murid dalam kegiatan pembelajaran. Agar murid dapat menggunakan secara aktif dan interaktif bahan belajar tersebut, maka dalam mengembangkan dan memproduksi bahan (media) tersebut hendaknya diperhatikan tiga hal berikut:</p>
<ul>
<li>
<div class="MsoBodyText" style="justify">mencantumkan beberapa pertanyaan tentang materi atau<span> </span>bahan pelajaran<span> </span>yang disampaikan;</div>
</li>
<li>
<div class="MsoBodyText" style="justify">mencantumkan kunci jawaban untuk semua pertanyaan yang telah diberikan sebagai <em>“feedback</em>” bagi jawaban siswa yang telah diberikan, sehingga siswa mengetahui apakah jawabannya benar atau salah; Ini mendorong terjadinya penguatan <em>(“reinforcement</em>”) terhadap jawaban murid, yaitu mereka akan cenderung mengingat jawabannya yang benar dan melupakan jawabannya yang salah.</div>
</li>
<li>
<div class="MsoBodyText" style="justify"> memberikan penjelasan ulang sebagai bahan <em>remedial</em><span> </span>terhadap jawaban siswa yang salah, sebagai yang dilaksanakan dalam bahan belajar terprogram<span> </span>jenis bercabang <em>(“branching programmed instruction”)</em>.</div>
</li>
</ul>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Sudah jelas bahwa sumber belajar – dalam hal ini <em>media pembelajaran</em> &#8211;yang dapat berfungsi sebagai saluran komunikasi atau mampu berinteraksi dengan peserta belajar dalam suatu kegiatan pendidikan dan pembelajaran harus<span> </span>dikembangkan dan dirancang secara sistematis berdasarkan kebutuhan<span> </span>kegiatan pembelajaran yang harus dilaksanakan dan tentu saja juga berdasarkan karakteristik para peserta belajar yang akan mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut. Percival<span> </span>mengatakan “ <em>a whole range of instructional media<span> </span>can be resources, examples including books, videocassettes, tape-slides programmes,<span> </span>computers, etc. Instructional media in all their various formats, are probably the most<span> </span>common type of learning resources, and these are often housed centrally in resoures centre</em>” Selanjutnya dikatakan oleh Percival:<span> </span><em>Basically, the instructional media which comprise the actual learning resources in<span> </span>a resource centre<span> </span>can come from two sources: those that are “bought in” from commercial organizations or from other educational<span> </span>institutions, and those that are produced within an institution in order to caater for requirements of a given<span> </span>set of students within a specific subject area”</em></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><em></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><strong><em>Perkembangan Pusat Sumber Belajar</em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Salah satu sumber belajar yang sudah lama diperlukan – hingga sampai sekarang masih tetap demikian – dalam setiap lembaga pendidikan atau pelatihan adalah <em>perpustakaan (library).</em> Dalam penyelenggaraan suatu perguruan tinggi, pernah dikatakan bahwa perpustakaan adalah <em>jantung suatu universitas</em>. Dikatakan demikian karena perpustakaan yang mengkoleksi berbagai macam buku dan journal dari pelbagai disiplin ilmu pengetahuan sungguh sangat diperlukan oleh<span> </span>suatu universitas. Salah satu ukuran yang menentukan mutu suatu universitas adalah seberapa banyak koleksi buku-buku di dalam perpustakaannya. Universitas-universitas yang ternama di dunia selalu mempunyai perpustakaan pusat (<em>main library</em>) yang besar dengan<span> </span>koleksi buku-buku yang sangat banyak jumlahnya hingga ratusan ribu sampai jutaan buku dalam berbagai jenis disiplin ilmu pengetahuan dalam terbitan yang relatif baru ditambah dengan koleksi berbagai jenis jurnal ilmiah. Di samping itu di universitas tersebut terdapat juga adanya perpustakaan fakultas (<em>school library</em>)<span> </span>di setiap fakultasnya untuk mendukung kegiatan belajar para mahasiswanya di masing-masing fakultas.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Perpustakaan adalah merupakan perkembangan awal dari Pusat Sumber Belajar.<span> </span>Semua bahan belajar berupa rinted materials” yang telah dimiliki dan dikoleksi oleh bagian atau unit yang dinamakan Perpustakaan<span> </span>dipelihara dan disimpan dengan menggunakan system klasifikasi tertentu untuk memudahkan pemanfaatannya.<span> </span>Sistim pengklasifikasian bahan-bahan yang paling banyak digunakan adalah system Dewey Decimal Classification (DDC). Di Amerika Serikat, system pengklasifikasian bahan di perpustakaan yang umumnya digunakan adalah system Library Conggres (LC) karena volume buku<span> </span>dan bahan-bahan pustaka lainnya yang dikoleksi sangat banyak sampai meliputi ratusan ribu hingga jutaan buku jumlahnya. Dengan mengklasifikasi buku-buku dan bahan-bahan pustaka menggunakan system klasifikasi tertentu, maka bahan-bahan pustaka dapat didistribusikan atau disirkulasikan penggunaannya secara optimal dalam lingkungan olah/universitas sehingga dapat menunjang dan memberikan kemudahan bagi pelaksanaan kegiatan belajar dan pembelajaran yang diselenggarakan.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Perpustakaan, baik perpustakaan umum, perpustakaan sekolah maupun perpustakaan<span> </span>universitas. dan perpustakaan lainnya, merupakan tempat <em>penyimpanan informasi dan pengetahuan<span> </span>sehingga dapat berfungsi sebagai sumber belajar bagi semua peserta belajar, para profesional, para peneliti dan bagi siapapun yang memerlukan informasi dan pengetahuan</em>. Sebenarnya perpustakaan melayani banyak fungsi yaitu untuk <em>keperluan arsip, pendidikan dan pembelajaran, rujukan atau referensi, penelitian, dan rekreasi</em> bagi masyarakat pada umumnya.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Oleh karena perpustakaan berfungsi untuk kegiatan pendidikan, pembelajaran dan penelitian,<span> </span>maka istilah sumber belajar di ditambahkan<span> </span>pada koleksi perpustakaan, dan<span> </span>distribusi informasi<span> </span>mulai diarahkan pada kebutuhan belajar peserta belajar. Tingkatan belajar bergerak dari tingkat pendidikan dasar<span> </span>sampai dengan tingkat belajar lanjut.<span> </span>Media yang digunakan meliputi berbagai jenis<span> </span>format seperti buku, majalah, microfilm, video, film, rekaman suara,<span> </span>dan computer.<span> </span>Mereka<span> </span>yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan formal dapat meneruskan studinya melalui kegiatan belajar secara informal secara belajar mandiri dengan menggunakan bahan-bahan yang terdapat di perpustakaan. Dengan demikian perpustakaan memerankan fungsi <em>demokratisasi </em>dalam pendidikan karena memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk memperoleh pendidikan dan pembelajaran.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Satu syarat penting agar fungsi perpustakaan yang sudah dijelaskan di atas dapat secara optimal diwujudkan, anggota masyarakat yang akan menggunakan perpustakaan dituntut memiliki dua syarat penting yaitu kemampuan membaca dengan baik (<em>reading ability</em>) dan mempunyai kebiasaan membaca yang baik (<em>reading habit</em>), dua hal yang pada umumnya belum dimiliki oleh masyarakat dan bangsa Indonesia.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Perpustakaan tidak saja mendorong berkembangnya “<em>literacy”</em> (kemampuan membaca dan menulis), tetapi lebih jauh dapat mengembangkan<span> </span>“<em>functional literacy</em>” (kemampuan membaca dan menulis secara fungsional) di rumah, pekerjaan dan masyarakt.<span> </span>Dan perpustakaan lebih lanjut dapat mengembangkan dan memenuhi apa yang disebut “ <em>information literacy</em>” yaitu kemampuan untuk memperoleh atau mencari informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan. Sesuai<span> </span>dengan perkembangan di bidang teknologi informasi<span> </span>maka <em>i</em><em>nformation literacy</em> dengan cepat berkembang ke suatu kebutuhan “<em>electronic information technologies</em>” yaitu informasi yang diperoleh melalui teknologi informasi. Hal ini mendorong suatu kebutuhan akan adanya perubahan fungsi perpustakaan<span> </span>sebagai<span> </span>sumber belajar</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Pada awal 1960-an, khususnya di Amerika Serikat, beberapa perpustakaan universitas diubah namanya menjadi Pusat Sumber Belajar (<em>Learning Resource Centre</em>).<span> </span>Pusat Sumber Belajar ini memberikan layanan yang <em>diperluas</em> meliputi <em>penelitian, pembelajaran, evaluasi belajar, pengembangan perkuliahan, layanan pelatihan, produksi bahan belajar<span> </span></em><span>di samping melaksanakan</span><em> layanan bahan cetakan dan audio visual yang biasa dilaksanakan</em> oleh perpustakaan, seperti seleksi (pemilihan),<span> </span>distribusi, dan penggunaan semua bahan belajar dan fasilitas. Tujuan yang utama adalah memperbaiki proses belajar peserta belajar dengan membantu mereview hasil penelitian, dan memilih metode pembelajaran terbaik dan bahan yang paling efektif yang akan diajarkan.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><em>Konsep Pusat Sumber Belajar</em> mengubah organisasi informasi dan pengelolalaan perpustakaan dari “<em>lingkungan hanya bahan cetak</em>” menjadi “<em>lingkungan bahan cetak dengan bahan non cetak” </em><span>termasuk pada akhirnya</span><em> semua teknologi yang lebih baru seperti bahan rekaman<span> </span>yang dibaca dengan mesin, CD-ROM, video disc</em>. Melalui sumber dan layanan yang baru, pustakawan dapat membantu para pengajar mereview metode pembelajaran mereka dan menyarankan praktek yang lebih kreatif. Penyiapan bahan belajar yang baru,<span> </span>penyediaan bahan-bahan dan peralatan audio visual untuk menunjang perkuliahan menjadi suatu program bersama dengan<span> </span>layanan koleksi dan referensi perpustakaan yang sudah ada.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><em>Pengelolaan perpustakaan</em><span> </span>berubah karena dibutuhkan <em>jenis-jenis personalia yang baru<span> </span>di samping staf perpustakaan yang<span> </span>sudah ada.</em><span> </span>Personalia yang dibutuhkan<span> </span>adalah yang mempunyai keterampilan dan pengetahuan dalam<span> </span>desain pembelajaran, pengetahuan dan keterampilan dalam pengembangan bahan (media) pembelajaran,<span> </span>penyiapan bahan belajar,<span> </span>keterampilan dalam mengakses data atau informasi melalui internet. Tentu saja dibutuhkan juga staf teknis yang akan merawat agar semua peralatan dapat tetap berfungsi setiap saat digunakan.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Pusat Sumber Belajar berfungsi melakukan <em>pengadaan, pengembangan, produksi, pelatihan<span> </span>dan pelayanan dalam pemanfaatan sumber belajar</em> (terutama <em>bahan dan alat</em>) untuk kegiatan pendidikan dan pembelajaran dibandingkan dengan perpustakaan yang hanya berfungsi melakukan <em>pengadaan dan pelayanan pemanfaatan sumber belajar </em>dalam rangka kegiatan pendidikan dan pembelajaran.<span> </span>Dengan demikian perpustakaan mempunyai fungsi yang lebih sempit jika dibandingkan dengan fungsi Pusat Sumber Belajar, karena hanya melaksanakan<span> </span>sebagian saja fungsi yang dilaksanakan oleh Pusat Sumber Belajar..</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"> </p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><strong><em>Strategi dan teknis pengelolaan Pusat Sumber Belajar</em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><strong><em></em></strong><em><span>A Resources Centre is a place (anything from a part of a room to an entire complex of buildings) that is set up specifically for the purpose of housing and using<span> </span>a collection of resources, usually in terms of instructional media. Resource centres may serve the needs of an individual department within a school or college,<span> </span>an entire institution,<span> </span>or even a collection of institutions, as for example, when several schools<span> </span>are served by a single central resources centre”</span></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Pengelolaan<span> </span>Pusat Sumber Belajar adalah kegiatan yang berkaitan dengan<span> </span>pengadaan, pengembangan/produksi, pemanfaatan sumber belajar (terutama bahan dan alat) untuk kegiatan pendidikan dan pembeljaran. Kegiatan pengelolaan sumber belajar tersebut dilaksanakan oleh suatu bagian dalam lembaga pendidikan / sekolah yang disebut Pusat Sumber Belajar.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Kegiatan<span> </span>Pusat Sumber Belajar yang perlu dikelola dalam<span> </span>menunjang kegiatan pembelajaran adalah:</p>
<ol>
<li>
<div class="MsoBodyText" style="justify">Kegiatan pengadaan bahan belajar, mis. buku, film,<span> </span>slide, dan sebagainya..</div>
</li>
<li>
<div class="MsoBodyText" style="justify"><span lang="SV">Kegiatan produksi / pengembangan bahan belajar</span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoBodyText" style="justify">Kegiatan pelayanan bahan belajar</div>
</li>
<li>
<div class="MsoBodyText" style="justify">Kegiatan pelatihan pengembangan media pembelajaran</div>
</li>
</ol>
<p class="MsoBodyText" style="justify"> </p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><strong><em>Kegiatan pengadaan bahan belajar</em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Kegiatan<span> </span>pengadaan adalah upaya untuk memperoleh<span> </span>bahan belajar, berupa bahan cetakan (buku, modul).<span> </span>bahan audio (kaset audio, CD, tape, dan lain-lain), bahan video (kaset video, VCD) yang dapat digunakan untuk pembelajaran. Bahan-bahan tersebut dapat dibeli di toko buku atau lembaga produksi media yang bersifat swasta yang memproduksi media dan menjual ke umum untuk memperoleh profit atau keuntungan. Daapat juga bahan belajar diperoleh dari hibah (pemberian/sumbangan)<span> </span>dari individu atau lembaga-lembaga yang berminat membantu lembaga pendidikan dengan menyerahkan secara uma-Cuma bahan belajar yang bermanfaat untuk penyelenggaraan<span> </span>kegiatan pembelajaran di lembaga pendidikan tersebut.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Terdapat satu unit kerja di Departemen Pendidikan Nasional yang bernama Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan Nasional Departemen Pendidikan Nasional (dulu<span> </span>bernama Pustekkom Depdikbud singkatan Pusat Teknologi Komunikasi<span> </span>Pendidikan dan Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) yang mempunyai fungsi untuk memproduksi dan mengembangkan berbagai media pembelajaran. Media yang diproduksi dan dikembangkan Pustekkom sebenarnya merupakan sumber belajar yang dirancang (<em>by design</em>), karena dikembangkan berdasarkan kurikulum sekolah yang berlaku saat itu, namun saat ini tercantum dalam Standar Isi sebagai dasar untuk mengembangkan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Dengan demikian Pustekkom mempunyai peranan untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui penggunaan media pembelajaran oleh para guru dalam proses belajar dan pembelajaran. Hal ini disebabkan karena media pembelajaran merupakan sumber belajar yang memang dirancang untuk kegiatan pembelajaran. Materi pembelajaran yang terdapat dalam<span> </span>media pembelajaran dapat memberikan kejelasan kepada murid atas materi pelajaran. Guru dengan demikian tidak lagi sibuk hanya bertindak sebagai sumber belajar utama untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa, yang sering sulit dipahami oleh siswa karena sangat bersifat abstrak, dan akibatnya guru kurang mempunyai waktu untuk memberikan bimbingan secara individual kepada murid yang memerlukan.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Karena itu media pembelajaran yang dikembangkan dan diproduksi Pestekkom dapat dijadikan salah satu alternatif atau pilihan untuk dikoleksi Pusat Sumber Belajar dengan cara “membeli” atau lebih tepat “mengganti ongkos produksi”<span> </span>dengan mengkopi media yang diinginkan/diperlukan. Media pembelajaran<span> </span>produksi Pestekkom<span> </span>yang diinginkan untuk dikoleksi Pusat Sumber Belajar Sekolah<span> </span>dapat dipelajari pada daftar media yang terdapat dalam buku direktori media pembelajaran produksi Pustekkom yang dikeluarkan oleh Pustekkom</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"> </p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><em><strong>Kegiatan produksi</strong></em><strong> <em>(pengembangan) media pembelajaran</em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><strong><em></em></strong><em>Kegiatan produksi</em> amat penting dan sangat diperlukan dilakukan oleh Pusat Sumber Belajar karena seperti telah dijelaskan di atas<span> </span>Pusat Sumber Belajar harus mempunyai koleksi bahan/media pembelajaran yang memadai untuk menunjang kegiatan diklat yang dilaksanakan, baik berupa bahan cetak maupun non cetak seperti bahan video, bahan audio, bahan belajar berbantuan computer, dan sebagainya.<span> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Selama ini bahan belajar cetakan <em>(printed materials</em>)<span> </span>seperti buku, ensiklopedia, jurnal, <em>hand-outs</em>, diktat, dan sebagainya merupakan sumber belajar bahan yang paling dominan peranannya dalam kegiatan pembelajaran. Perpustakaan selama ini telah menunjukkan peran yang cukup efektif dalam melaksanakan fungsi ini. Namun bahan cetakan yang lain seperti modul, pengajaran terprogram yang mampu berkomunikasi dengan peserta belajar, dan bahan bahan belajar lainnya yang bersifat non-cetak seperti kaset rekaman audio, kaset rekaman video, VCD, slide suara, <em>filmstrip</em>,<span> </span>film,<span> </span>bahan berbasis komputer, dan sebagainya perlu dikembangkan atau diproduksi sendiri oleh Pusat Sumber Belajar, sehingga bahan-bahan belajar yang ada di diklat (PSB) dapat digunakan untuk menunjang kegiatan pendidikan dan pembelajaran.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Satu hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan kegiatan produksi dan pengembangan bahan atau media pembelajaran ini adalah<span> </span>walaupun kita sudah dapat menggunakan komputer pribadi (<em>PC</em>) untuk membuat transparansi maupun gambar-gambar grafis yang menarik,<span> </span>namun<span> </span>masih tetap diperlukan keterampilan<span> </span>dalam membuat bahan-bahan belajar yang murah (<em>inexpensive materials</em>) melalui penggunaan “<em>letter guide</em>” untuk menulis <em>caption,</em> membuat<span> </span>program animasi yang menarik, menempelkan gambar visual (<em>mounting</em>), memotret (<em>still pictures</em>), dan sebagainya. Kegiatan produksi (pengembangan) media<span> </span>amat penting untuk dilakukan oleh Pusat Sumber Belajar karena seperti telah dijelaskan di atas<span> </span>Pusat Sumber Belajar harus mempunyai koleksi bahan/media pembelajaran yang memadai untuk menunjang kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah/madrasah. Di atas telah dijelaskan bahwa untuk mempunyai koleksi sejumlah bahan<span> </span>(sumber) belajar untuk membantu pelaksanaan proses pembelajaran Pusat Sumber Belajar memperolehnya dengan jalan membeli bahan belajar<span> </span>di took bukua, lembaga produksi media swasta, ndan sebagainya. Selama ini Perpustakaan berperan cukup efektif dalam melaksanakan fungsi penyediaan bahan belajar cetakan <em>(printed materials</em>)<span> </span>seperti buku pelajaran, buku teks, kamus, ensiklopedia, <em>hand-outs</em>, diktat, dan sebagainya sebagai<span> </span>sumber (bahan) belajar yang paling dominan peranannya dalam kegiatan pembelajaran.. Namun bahan cetakan yang lain seperti modul, pengajaran terprogram sebagai media pembelajaran yang mampu berkomunikasi (berinteraksi) dengan peserta belajar, dan bahan bahan belajar lainnya yang bersifat non-cetak seperti kaset (rekaman) audio, kaset (rekaman) video, VCD, slide suara, filmstrip, film,<span> </span>bahan berbasis komputer, dan sebagainya perlu dikembangkan atau diproduksi sendiri oleh Pusat Sumber Belajar, sehingga bahan-bahan belajar yang ada di PSB dapat digunakan untuk menunjang kegiatan pembelajaran secara optimal.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Agar mampu memproduksi bahan belajar yang diperlukan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah/madrasah, baik yang<span> </span>bersifat “<em>instructor dependent instruction” </em>maupun<span> </span>“<em>instructor independent instruction”</em> sudah pasti diperlukan SDM yang mempunyai kemampuan<span> </span>di dalam merancang, memproduksi dan mengembangkan media pembelajaran. Selain itu juga diperlukan seperangkat sarana dan peralatan produksi yang memadai untuk memproduksi berbagai jenis media pembelajaran yang diperlukan. Dan sudah barang tentu juga diperlukan dana atau anggaran yang tidak<span> </span>kecil untuk melaksanakan kegiatan produksi media pembelajaran<span> </span>yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">. Untuk itu PSB memerlukan sarana produksi seperti alat-alat grafis (misalnya berbagai jenis alat menulis/<em>lettering guide</em>,<span> </span>alat <em>laminating</em>, <em>heat mounting press</em>, dll, alat fotografi, <em>audiorecording</em>,<span> </span><em>videorecording</em>, dsb). Tentu saja sarana produksi yang akan di-install di PSB tergantung pada banyak factor, termasuk jenis media pembelajaran yang akan dikembangkan (diproduksi) dan jumlah dana yang tersedia.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"> </p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><strong><em>Kegiatan pelayanan media pembelajaran</em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><em>Kegiatan<span> </span>pelayanan</em><span> </span>adalah fungsi yang<span> </span>langsung berhubungan dengan<span> </span>kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh Pusat Sumber Belajar karena keberadaan PSB dengan semua personel dan sarana serta peralatannya adalah dimaksudkan untuk memberikan pelayanan berupa pemanfaatan berbagai jenis bahan dan media<span> </span>belajar untuk menunjang kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Pelayanan yang diberikan dalam kaitan ini sesungguhnya sama dengan pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan di dalam membantu guru dan peserta belajar/siswa berupa peminjaman bahan-bahan cetakan untuk memudahkan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Bahan-bahan yang dikoleksi Pusat Sumber Belajar yang dimanfaatkan baik oleh guru maupun peserta belajar dapat dibeli di tempat-tempat yang menjual bahan atau media yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah/madrasah misalnya toko buku, toko VCD dan atau kaset rekaman audio/video, atau dapat diperoleh melalui hibah<span> </span>dari lembaga-lembaga yang<span> </span>ada hubungannya dengan pendidikan/sekolah/madrasah seperti departemen, kedutaan luar negeri, dan sebagainya.<span> </span>Dalam jangka panjang tentunya PSB sendiri harus makin bertumbuh sehingga mempunyai kemampuan sendiri untuk memproduksi berbagai jenis media dan bahan belajar yang benar-benar dibutuhkan sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Untuk memudahkan pelaksanaan sirkulasi pelayanan bahan dan media belajar yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran tertentu, perlu mengklasifikasi bahan-bahan yang sudah berhasil diproduksi dan kemudian<span> </span>memberikan “<em>entry number</em>” untuk setiap bahan yang disimpan. Kita dapat menggunakan klasifikasi Desimal Dewey (<em>DDC atau Dewey Decimal Classification)</em> sebagai yang digunakan untuk mengklasifikasi buku-buku yang ada di perpustakaan.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Bila Pusat Sumber Belajar sudah berkembang dengan pesat, di mana koleksi media sudah cukup banyak jumlah dan jenisnya,<span> </span>pelayanan pemanfaatan media ini dapat diberikan juga kepada pihak-pihak lain di luar kepentingan sekolah sendiri, misalnya<span> </span>sekolah/madrasah lain.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"> </p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"> </p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"> </p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><strong><em>Kegiatan pelatihan</em> <em>media pembelajaran</em></strong>.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Fungsi pelatihan adalah fungsi keempat Pusat Sumber Belajar yang<span> </span>ditujukan untuk membantu pihak lain di luar sekolah/madrasah sendiri yang memerlukan pengetahuan dan keterampilan dalam memproduksi dan mengembangkan<span> </span>bahan belajar./ media pembelajaran. Fungsi ini tentu saja baru dapat dikerjakan bila PSB sudah bertumbuh dan berkembang sedemikian rupa sehingga memiliki SDM yang memadai dalam produksi dan pengembangan media pembelajaran serta peralatan dan sarana yang memadai untuk mendukung kegiatan produksi dan pengembangan berbagai media pembelajaran.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"> </p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><strong><em>Penutup</em></strong><em></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Bahan atau media pembelajaran adalah salah satu dari enam jenis sumber belajar: pesan, orang, bahan, alat, teknik dan latar/lingkungan yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan belajar dan pembelajaran.<span> </span>Pusat Sumber Belajar yang merupakan perkembangan dari perpustakaan perlu mengkoleksi bahan-bahan belajar melalui pembelian, hibah, dan memproduksi sendiri bahan-bahan belajar dalam berbagai jenis format<span> </span>(bahan cetak, bahan proyeksi, bahan rekaman video, bahan rekaman suara, dan bahan computer) yang diperlukan dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Apabila perpustakan terutama berfungsi memberikan layanan<span> </span>pemanfaatan bahan-bahan belajar yang dikoleksinya sebagai sumber<span> </span>belajar bagi pelaksanaan proses belajar dan pembelajaran, maka Pusat Sumber Belajar mengemban fungsi yang lebih luas yaitu selain memberikan layanan pemanfaatan media dan bahan belajar yang dikoleksinya untuk pelaksanaan kegiatan pembelajaran (hal ini adalah fungsi perpustakaan), fungsi lainnya adalah juga melakukan<span> </span>kegiatan produksi dan pengembangan bahan belajar serta pelatihan dalam kegiatan produksi dan pengembangan media pembelajaran.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Untuk dapat melaksanakan fungsi produksi dan layanan (khususnya dalam layanan produksi media pembelajaran), dan pelatihan dalam produksi dan pengembangan media pembelajaran, maka PSB perlu memiliki tenaga (SDM) yang berkaitan dengan produksi dan pengembangan media pembelajaran.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Agar semua bahan yang telah dikoleksi, baik melalui pembelian, hibah atau produksi sendiri, dapat digunakan dengan mudah untuk kegiatan pembelajaran, maka perlu sekali dilakukan klasifikasi dan katalogisasi terhadap semua bahan-bahan tersebut. Cara pengklasifikasian bahan-bahan yang telah berhasil dikoleksi di PSB yang sering digunakan adalah DDC (<em>Dewey Decimaal Classiafication)</em>, karena jumlah koleksi bahan (media) pembelajaran di PSB tidak terlalu besar.<span> </span><strong></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"><strong><em>DAFTAR PUSTAKA</em></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Association for Educational Comunication Technology (AECT), <em>Definisi Teknologi Pendidikan</em> (Penerjemah Yusufhadi Miarso), Jakarta: C.V. Rajawali (Buku asli diterbitkan tahun 1977), 1986.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"> </p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Heinich, R., M. Molenda, J.D. Russell, dan S.E Smaldino,<span> </span><em>Instructional Media and Technologies for Learning</em>. Englewood Cliffs, New Jersey: Merril-an imprint of Prentice Hall, 1996</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"> </p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Kemp, Jerold E., <em>Planning &amp; Producing<span> </span>Audio Visual Materials</em>, New York : Thomas Y. Crowell, 1975</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"> </p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Percival, Fred &amp; Henry Ellington, <em>A Handbook of Educational Technology</em>, Kogan Page Ltd, 120 Pentonville Road, London., 1980.</p>
<p class="MsoBodyText" style="justify"> </p>
<p class="MsoBodyText" style="justify">Plomp, Tjeerd dan Donald P.Ely (Editor), <em>International<span> </span>Encyclopedia of Educational Technology</em>, Second Edition, Cambridge,UK:<span> </span>Cambridge University<span> </span>Press, 1996</p>
<p class="MsoBodyText" style="200%;"> </p>
<p class='vc_tag'>&nbsp;Viewed&nbsp;304291&nbsp;times&nbsp;by&nbsp;4736&nbsp;viewers</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://purwanto.web.id/?feed=rss2&amp;p=114</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
